Saturday, May 31, 2014

Sarkub Mesir ERA 60-an

"...Sebelum meninggalkan masjid, beberapa budayawan dan tamu rombongan berkebangsaan Indonesia menemui saya dan mengajukan banyak pertanyaan tentang makam Sayyidah Zainab, Sayyidah Nafisah, dan lainnya..."
Kalimat di atas merupakan bagian dari mukadimah untuk cetakan pertama Marâqid Ahli l Bayt fî l Qâhirah pada tahun 1383 Hijriah (sekira tahun 1963 Masehi, 51 tahun yang lalu).

Pada bagian itu, penulis buku tersebut sedang menjabarkan beberapa motivasi yang membuatnya menulis buku itu.

Marâqid Ahli l Bayt fî l Qâhirah (Makam-Makam Keluarga Nabi di Kairo) ialah salah satu buku ulama sufi kenamaan Mesir as-Syaikh ar-Raid Muhammad Zaki Ibrahim.

Selain tokoh sufi, beliau juga masyhur sebagai ahli fikih, ahli hadits, sekaligus penyair. Beliau mendirikan Jam'iyyah Asyirah Muhammadiyah (tercatat resmi) pada tahun 1930 M.

Ulama bernasab Husaini dan salah satu alumnus Al-Azhar terbaik ini juga merupakan tokoh tarekat Muhammadiyah Syadzuliyyah.

Jam'iyah Asyirah Muhammadiyah sendiri sampai sekarang masih aktif menggelar berbagai pengajian rutin bagi kita yang ingin tahu lebih jauh serta mendalami tasawwuf. Pengajian diisi oleh beberapa ulama Al-Azhar yang aktif mengajar di serambi-serambi masjid seperti Syaikh Fathi Hijazi, Syaikh Muhanna, dan Syaikh Umar Hasyim.

[Lebih lanjut mengenai Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim, akan kami sajikan di lain kesempatan.]

Siapa orang-orang Indonesia yang dimaksud dalam mukadimah?
Penelusuran kami belum menemukan hasil. Entah siapa rombongan yang dimaksud itu.

Yang terpenting, mari merapat dan lanjutkan perjuangan "nyarkub" ke makam aulia. Shollu ala Sidnannabi!
---
FOTO: Screenshot Marâqid Ahli l Bayt fî l Qâhirah, terbitan 2003, cetakan keenam.
---
Sobat SarKub Mesir yang ingin membelinya bisa ke maktabah Ummul Qura di depan gerbang kampus putra Darrasa, seberang jalan, atau mungkin maktabah lain yang juga memajang buku-buku beliau.

Harga update terakhir: 10 Pounds atau setara 16 ribu rupiah dengan asumsi 1 Pound Mesir = Rp1.600,-
FOTO: Maraqid Ahl Bayt Nabi.

Tuesday, May 27, 2014

Kisah Syaikh Sya'rawi dan Sayyidah Zainab

(adik Sidna Hasan dan Sidna Hossein)

Suatu malam setelah berbincang-bincang tentang sufisme dan para awliya Allah Swt. Syaikh Sya'rawi bertanya padaku, "Sudahkah aku bercerita tentang Sayyidah Zainab?"

"Saya belum pernah dengar, Maulana", jawabku.

Syaikh Sya'rawi bercerita, "Aku bertetangga dengan Sittina Zainab selama 7 tahun, dari 1936 hingga 1942. Waktu itu, aku tinggal di Jalan Prince Aziz dekat Benteng al-Kabsh, Distrik Sayyidah Zainab.

Aku masih mahasiswa S1 yang sedang menyiapkan diri mengikuti ujian. Singkat cerita aku jatuh sakit, sakit parah tak kunjung sembuh hingga membuatku tak bisa mengikuti imtihan (ujian).

Sama halnya imtihan semester awal, semester kedua juga terlewati. Jengkel bercampur sedih lha wong aku selama ini sudah berusaha.

Aku bilang ke Sayyidah Zainab, "Kita tinggal di sini, di sampingmu, Sittina! Imtihan terlewati bahkan sampai semester kedua. Hilanglah sudah setahun ini."

Sejak saat itu aku membenci Sayyidah Zainab. Aku tak lagi salat di masjidnya, lebih memilih salat di sebuah zawiyah (tempat kegiatan tasawwuf), namanya Zawiyah al-Habiba.

Terpisah dari kisah sebelumnya, Syaikh Sya'rawi melanjutkan, "Kala itu aku mempunyai seorang teman, salah satu al-Arif Billah; Syaikh Muhammad 'Abdul Fattah, seorang guru besar di fakultas Syariah.

Ia tiba-tiba mendatangiku tepat pada malam maulid. Ya, maulid Sayyidah Zainab, sebuah malam yang gegap gempita.

Ia bilang padaku dengan nada memerintah, "Segera berdiri dan pakai bajumu!"

Aku tanya, "Buat apa? Lagian mau ke mana sih?"

Ia tetap menyuruhku segera berdiri dan bersiap-siap.

"Baiklah kalau begitu, kita mau pergi ke mana?", tanyaku.

"Ke Sayyidah Zainab, akan kuhadapkan kau ke beliau dan segera islah (berbaikan/damai).

Aku terperanjak.
Bagaimana ia tahu aku masih jengkel pada Sittina Zainab?
Bagaimana ia tahu aku sekarang membencinya?

Ia membawaku dan kita pergi bersama ke makam Sayyidah Zainab.

Setelah masuk masjid, kami salat 2 rakaat baru ziarah, beruluk salam, dan menghabiskan malam di dalam masjid.

Pagi hari, kami pulang ke rumah, tidur, dan istirahat sejenak.

Di rumah, Syaikh Abdul Fattah tidur di kasur sedangkan aku di mebel ruang tamu.

Belum lama berlalu, aku mendengar suara pintu diketuk, membangunkanku dari mimpi indah. Siapa ini yang datang sepagi ini?

Aku bangun dan membuka pintu. Ternyata orang tuaku yang datang dari desa membawakan bekal.

Aku persilakan masuk dan kusampaikan juga kenapa datang saat aku dapat mimpi indah. "Aku tadi mimpi indah, Pak. Ya, saat Bapak datang tadi."

Bapak menanyakan dengan nada serius, "Mimpi apa, mimpi apa, nak?"

Kujawab, "Mimpi Sittina, iya, Sittina.".

Bapak bertanya lebih serius, kedua tangannya sampai menggoncang pundakku, "Kamu melihatnya tadi? Wajahnya terbuka atau tertutup?

"Apa maksudnya wajahnya terbuka atau tertutup?", tanyaku.

Bapak mengulangi pertanyaannya, "Wajah Sittina Zainab dalam mimpimu itu terbuka atau pakai penutup?"

"Terbuka"

Bapak memeluk dan menciumku.

Aku penasaran, "Maksudnya apa kalau wajahnya terbuka, Pak?".

"Itu berarti kita memang benar termasuk keluarganya, termasuk mahramnya, Nak!"

"Sittina pesan apa padamu?", tanya Bapak.

Kujawab sambil memegang tangannya, kujelaskan bahwa ada orang yang sedang tidur di kamar itu. Agar tidak terdengar dan membangunkannya, lebih baik menjauh ke kamar yang lain.

Setelah itu, aku kaget Syaikh Abdul Fattah bangun dan memanggilku. Aku dan syaikh belum sempat bicara apapun, tapi ia tahu bahwa yang datang tadi ialah Bapakku dari desa. Kemudian, langsung bertanya padaku dari atas kasur.

"Sittina bilang apa padamu? Coba ke sini ceritakan padaku..", kata Syaikh Abdul Fattah.

Kujawab, "Sittina bertanya apakah aku masih marah padanya? Begitu."

"Bapakmu bilang apa tadi?"

"Bapakku menanyakan apakah wajah Sittina Zainab terbuka atau berpenutup."

"Dan kamu bilang apa?", tanya Syaikh Abdul Fattah.

"Terbuka."

"Lalu Bapakmu bilang apa lagi?"

"Mimpiku pertanda kita benar-benar termasuk mahramnya, termasuk keluarganya."

Syaikh Abdul Fattah menyahut, "Benar, iya, benar. Sittina Zainab berpesan apa lagi?"

Kujawab, "Setelah bertanya apakah aku masih marah padanya, Sittina melanjutkan: Satu tahunmu yang lewat itu akan kami ganti menjadi lima."

"Lima ini maksudnya apa?", tanya Syaikh Abdul Fattah.

"Wallahu a'lam."
---
Syaikh Sya'rawi menegaskan ia tidak tahu apa maksud kalimat: Akan kami ganti menjadi 5 untukmu suatu saat.

Syaikh Sya'rawi melanjutkan, "Kejadiannya setelah aku lulus dari Al-Azhar dan bekerja sebagai pegawai golongan VI.

Saat itu aturannya: promosi jabatan dapat dilaksanakan dengan menilai berapa lama pengabdian dan kinerja di instansi terkait serta adanya 25% kuota pegawai yang kosong.

Aku terkejut saat kenaikan golonganku dari gol. VI ke gol. V itu dilaksanakan murni dengan rekomendasi, tidak dengan syarat lamanya pengabdian.

Hari itu, aku langsung teringat kalimat Sayyidah Zainab "Kami akan menggantinya dengan 5 (lima)."

Hari itu juga aku izin dari kerjaku di kota Zaqaziq untuk bertolak ke Kairo, ziarah pada Sittina Zainab.

Di akhir cerita, Syaikh Sya'rawi berpesan,

"Ada orang yang tidak percaya hal semacam ini, bahkan menganggap orang yang menyampaikannya itu tidak waras, gila. Hal itu dapat dimengerti sebab mereka belum pernah melihat sendiri."[]
***
Sumber: Madyafah Syaikh Ismail Shadiq al-Adawi
Alih Bahasa: Mu'hid Rahman.
FOTO: Syaikh Sya'rawi dan sahabatnya Baba Shenouda (kiri).

Friday, May 09, 2014

Karomah Syeikh Nadzim al-Haqqani

Cerita ini dituturkan oleh syeikh Asyraf Sa’ad al-Azhari dalam laman facebook beliau.


FOTO: Syeikh Nadzim al-Haqqani 

Alkisah, syeikh Nadzim al-Haqqani mengutus Abdurrahman, salah seorang muridnya yang berasal dari China untuk mendapatkan ijazah alquran dari institusi al-Azhar guna dijadikan sarat untuk pengurusan sekolah alquran. Pada waktu itu, pemerintah Turki mengharuskan pengelola sekolah harus mempunyai ijazah resmi dari al-Azhar.

Abdurrahman ini dulunya pernah di penjara oleh pemerintah China dengan tuduhan menghapalkan alquran. Pada waktu dia di penjara, pada suatu malam, ia didatangi oleh seseorang dalam mimpi. Di dalam mimpinya, orang tersebut memerintahkan Abdurrahman untuk keluar dari penjara. Dia tidak tau siapa orang yang datang dalam mimpinya. Ia juga tidak tau apa gerangan takwil dari mimpi tersebut.

Selang beberapa hari, ia dapat keluar dengan cara menyuap pegawai penjara. Ayahnya yang merencanakan semuanya. Setelah keluar dari penjara, sang ayah meminta Abdurrahman untuk meninggalkan China. Dan, negara yang dituju adalah Turki.

Tibalah ia di Turki. Ia memilih menetap di pemukiman kaum muslimin. Hingga pada suatu waktu, ia mendapati orang yang hadir dalam mimpinya pada sebuah acara televisi. Ia lantas bertanya tentang biografi orang tersbut dan dimana dia tinggal. Sontak, para tetangganya memberikan informasi dengan detail siapa seebenarnya orang tersebut dan dimana beliau tinggal.

Ia tidak sabar untuk menemuinya. Ia langsung berkemas dan berangkat menuju alamat yang telah diberikan oleh kenalannya. Tapi apa lacur, di tengah perjalanan, dia dibuat tersesat oleh seorang wahabi. Ia menanyakan alamat kepada wahabi tersebut dan dia memberikan petunjuk palsu.

Dengan susah payah akhirnya ia menemukan alamat yang dituju. Ia memilih shaf paling depan agar dapat leluasa memandang sang syeikh. Ketika syeikh tiba dan telah duduk ditempatnya, sang syeikh mengarahkan pandangan kepadanya. Syeikh tersenyum kemudian berkata: “Kamu hapal alquran?”.
Ia menjawab: “ iya, syeikh”.
“Sekarang bacakan beberapa ayat untukku!”
Abdurrahman membacakan beberapa ayat. Hadirin dan syeikh tersihir dengan keindahan bacaaan Abdurrahman. Semenjak saat itu, setiap ada majlis pengajian dia yang menjadi qari’.

Setelah beberapa bulan menjadi qari’ tetap, ia diperintahkan sang syeikh untuk ke Mesir guna mendapatkan ijazah alquran dari al-Azhar. Waktu yang diberikan padanya hanya lima hari. Waktu yang kelihatannya sangat mustahil untuk mendapatkan ijazah alquran dari institusi yang terkenal sangat selektif dan ketat dalam memberikan ijazah ini. Para syeikh-syeikh besar perlu waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan ijazah. Tapi, apa boleh buat. Begitulah “dawuh” sang syeikh.

Dijadwalkan jumat pagi Abdurrahman sudah sampai di bandara Kairo. Agenda hari pertama adalah berziarah ke makam sidna Husen dilanjutkan shalat jum’at di tempat yang sama. Disaat menunggu shalat jumat, telinganya mendengar lantunan alquran dari masjid al-Azhar. Ia menanyakan siapa yang sedang melantunkan alquran itu. Apakah suara itu berasal dari kaset atau sang qari’ yang sedang melantunkannya. Ternyata, sang qari’ adalah syeikh al-Thablawi, qari’ yang digandrunginya. Ia urung shalat jumat di masjid sidna Husen, beralih ke masjid al-Azhar.

Setelah shalat jumat usai, ia menyambangi syeikh al-Thablawi. Ia memperkenalkan diri untuk kemudian memperdengarkan bacaannya kepada syeikh al-Thablawi. Selesai, ia memohon syeikh al-Thablawi untuk memberikan ijazah. Syeikh al-Thablawi berjanji akan memberikan ijazaha esok hari di kediamannya.

Pada hari yang sama, ia menghadiri majlis alquran syeikh Abdul Hakim Abdul latif. Beliau meminta Abdurrahman memperdengarkan bacaannya. Syeikh Abdul Hakim puas dengan bacaan Abdurrahman, akan tetapi beliau tidak berkenan memberikan ijazah kecuali jika Abdurrahman memperdengarkan alquran secara utuh.

Setelah hari pertama ia mendapatkan keajaiban, hari-hari berikutnya juga tidak lepas dari keanehan.

Empat hari sisa kunjungannya di Mesir akan ia gunakan untuk menghadiri pengajian-pengajian alquran. Salah satu tempat yang dituju adalah pengajian yang diasuh oleh syeikh al-Mu’ashrawi. Ia diuji kecakapannya dalam membaca alquran oleh syeikh. Pertanyaan-pertanyaan sulit semuanya dapat diatasi. Akhirnya, syeikh al-Mu’ashrawi memberikan ijazah. Dalam waktu yang singkat Abdurrahman telah mendapatkan ijazah dari dua ulama alquran terkemuka bumi Kinanah.

Apakah persoalan sudah tuntas? Belum. Persoalan terahir yang dihadapi adalah pengesahan ijazah oleh institusi al-Azhar. Masalah pengesahan ijazah akan memakan waktu yang lama. Maklum, urusan birokrasi disini terkenal lelet. Padahal waktu yang tersisa hanya satu hari.

Para pengikut syeikh Haqqani yang berada di mesir punya inisiatif untuk mempertemukan Abdurrahman dengan Syeikh al-Azhar, syeikh Ahmad al-Thayib. Pertemuan dengan syeikh Ahmad al-Thayib berlangsung di hari ahir kunjungannya. Tepatnya beberapa jam sebelum pulang ke Turki.

Setelah menceritakan sekelumit perjalanan hidupnya dan tugas yang dibebankan syekh al-Haqqani kepada dirinya, ia lantas mengutarakan tujuan utama menghadap Syeikh al-Azhar. Tujuannya adalah meminta bantuan agar dipermudah untuk mendapatkan pengesahan ijazah alquran oleh al-Azhar.

Syeikh Ahmad al-Thayib langsung menghubungi Majma’ Buhuts, lembaga yang berwenang mengurusi hal tersebut. Akhirnya, urusan pengesahan dapat berjalan dengan lancar. Ia kembali ke Turki dengan senyum mengembang.[]
---

Diterjemahkan oleh Adhi Maftuhin.

Monday, May 05, 2014

4 Kitab Rujukan Wajib dalam Memahami Tasawuf

Ada empat kitab yang harus dipelajari agar kita dapat memahami tasawuf dengan benar.

1. Risalah Qusyairiyah
2. Manazil Sairin
3. Hikam 'Athaiyah
4. Ihya Ulumidin

Syekh Yusri Rusydi.

Bila ingin mengikuti pengajian Manazil Sairin, setiap hari Ahad di masjid Imam Dardir oleh Syekh Yusri Rusydi.


nb: Dalam riwayat yang lain, kitab Qutul Qulub mengantikan al-ihya.


FOTO: Syaikh Yusri Rusydi (kanan) dan Syaikh Ali Gomaa.

Sunday, May 04, 2014

Imtihan di Al-Azhar

FOTO: Lokasi Nabi Saw. bersinar di depan sahabat, Saudi Arabia.
Imtihan di Al-Azhar memang sarat dengan misteri. Semuanya sepakat tentang itu. Perlu usaha ekstra lahir dan batin agar semuanya berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.

Untuk usaha batin tentu dengan berdoa. Doa akan mudah terkabul bilamana adab, sarat dan rukunnya terpenuhi.

Selamat menempuh imtihan bagi mahasiswa dan mahasiswi Al-Azhar. Semoga diberi kemudahan dan kenajahan.[]


Shalawat Kitab ar-Risalah

FOTO: Kubah Masjid Imam Syafii, Mesir.
Muhamad bin Abdul Hakam bercerita: "saya pernah berjumpa dengan Imam Syafi'i dalam mimpi. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan perihal perlakuan Allah terhadap beliau setelah meninggal"


Muhamad: "Bagaimana Allah memperlakukan anda, wahai imam?"

Imam: Allah merahmati dan mengampuni semua kesalahanku. Tidak itu saja, Allah juga telah menganugrahkan surga kepadaku. Pada waktu aku diantar kesana, banyak sekali rombongan yang mengantarku. Aku bagaikan penganten di malam zafaf"

Muhamad: Dengan apa anda meraih semua itu?

Imam: Dengan shalawat yang termaktub dalam kitab Ar-Risalah. Shalawat itu adalah "Allahumma shalli 'ala sayidina muhamad(in) 'adada ma dzakaraka adz-dzakirun(a) wa ghafala 'an dzikrihi al-ghafilun.

[Termaktub di Al-Bajuri, Sanusiyah.]

Al-Qa'nabi Bag. 2

Perjumpaan dengan Imam Syu'bah ( 85 H.- 160 H.) yang dijuluki sebagai "amirul mukminin fil hadits" menjadi awal mula pertaubatan beliau. 


Waktu itu, ia akan pulang ke rumah, sehabis kongkow-kongkow dengan teman-teman minumnya. Di jalanan kota Bashrah, ia mendapati imam Syu'bah duduk diatas keledai, sedang orang-orang mengerumuninya. Ia lantas memberanikan diri bertanya kepada orang yang hendak meninggalkan kerumunan. 


"Siapakah orang yang dikerumuni banyak orang tersebut?". Orang yang ditanya balik keheranan, karena hampir seluruh kota Bashrah mengetahui siapa imam Syu'bah. 

FOTO: Masjid Mohammad Ali, Mesir.
Al-Qa'nabi tergerak hatinya. Ia menguntit imam Syu'bah sampai ke rumahnya. Tanpa permisi ia langsung masuk dan menghardik imam Syu'bah supaya mengajarkan satu-dua hadits kepadanya. Imam Syu'bah menolak. Ia lalu menodongkan belati yang ada dibalik bajunya ke leher Imam Syu'bah. Merasa terdesak, akhirnya imam Syu'bah membacakan hadits:
أن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى اذا لم تستحى فاصنع ما شئت

Al-Qa'nabi bergetar, pisau yang ia pegang jatuh. Ia merasa malu dan akhirnya tanpa pikir panjang berlari ke rumahnya. Ia langsung berkemas dan pamit kepada ibunya. Madinah dan Imam Malik adalah guru dan kota yang ia tuju. Akhirnya, setelah beberapa lama, ia terkenal sebagai murid Imam Malik yang paling zuhud. Selain itu, ia menjadi perawi hadits yang mempunyai murid ahli hadits terkenal. Dan perlu diketahui, ia hanya meriwayatkan satu hadits diatas dari imam Syu'bah (85 H.- 160 H.)

Saturday, May 03, 2014

al-Ghazali membersihkan WC?

Alkisah, kealiman dan keilmuan yang dimiliki oleh imam al-Ghazali belum dapat mengantarkannya ke tahapan wushul.


Ia lantas mencari seorang mursyid untuk dimintai petunjuk. Pilihan jatuh kepada Abu Bakar al-Warraq, seorang shufi kondang di masanya.


Al-Warraq tidak mau menerima al-Ghazali sebagai murid sebelum dirinya membersihkan wc yang berada di pasar. 

FOTO: Masjid Azhar, Mesir.
Al-Ghazali membersihkan wc tersebut dengan bersemangat. Mula-mula ia tidak mau membersihkan wc dengan tangannya. Al-Warraq menghardiknya. "Mengapa kau tidak menggunakan tanganmu!'' Apakah tanganmu terlalu mulia untuk membersihkan kotoran dan najis? Al-Ghazali bergegas menggunakan tangannya untuk membersihkan. Akhirnya, setelah beberapa waktu, wc yang awalnya kotor dan bau menyengat kini menjadi kinclong.

Al-Ghazali pulang menghadap sang guru untuk bersiap diri menjadi murid. Sebelum ia berkata apa-apa, sang guru dawuh: Pulanglah, kau telah lulus ujian ridha, sabar dan ikhlas. Hal tersebut adalah inti penghambaan kepada Allah.[]

Fatwa didasarkan pada 3 hal ini

Fatwa didasarkan pada tiga hal:

1. Nash
2. Maqashid syariah
3. Kondisi dan waktu

Syaikh Allamah bin Bayyah



FOTO: Syaikh ibn Bayyah.

Al-Qa'nabi

FOTO: Ilustrasi.
Al-Qa'nabi ( 130 H.- 221 H.), seorang perawi hadits kenamaan, guru dari imam Bukhari, imam Muslim, imam Abu Dawud dan sederet ulama lain di masa mudanya terkenal sebagai pemabuk berat.[]


Taqiyuddin lbnu Daqiqil 'ld


Taqiyuddin lbnu Daqiqil 'ld (wafat 702 H.)



Abul Fatah Taqiyuddin Ibnu Daqiqil 'Id adalah seorang ulama Syafi’iyah yang besar pada abad ke VII H. Beliau dilahirkan di atas kapal ketika ibu-bapaknya pergi ke Mekkah pada tahun 615 H. dari negeri Qush. 

FOTO: Makam Ibnu Daqiqil Id, Mesir. Captured by Adhi Maftuhin
Banyak orang mengatakan bahwa Ibnu Daqiqil 'Id ini adalah Ulama Mujaddid tahun ke 700. Beliau belajar fiqih kepada gurunya Syeikh Izzuddin bin Abdus Salam, Sulthonul Ulama.[]

Friday, May 02, 2014

Fudhail bin Iyadh adalah seorang pencuri?

FOTO: ilustrasi.

Fudhail bin Iyadh adalah seorang pencuri. Tatkala ia sedang berada di atas genting hendak mencuri, kupingnya menangkap seseorang yang sedang membaca alquran :


“Belumkah datang waktunya bagi orang –orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang –orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Al Hadid: 16).

Seketika Fudhail bin Iyadh terpelanting dari genting. Ia menyatakan diri bertaubat. Seterusnya, ia menempuh jalur shufi dan di kelak kemudian hari ia menjadi salah seorang shufi kenamaan.[]