Saturday, August 30, 2014

Karamah Syeikh Ali al-Khawwash

[Dok. Ziarah Bab Nashr; 22 Aug '14 ]
Karamah Syeikh Ali al-Khawwash
(Kisah Tak Tertulis)
______________________________
Kisah terakhir dan lanjutan dari postingan tertanggal 27/08/'14..

Alkisah, sepasang suami-istri saat itu terhimpit keterbatasan ekonomi hingga sampai pada keputusan menjual cincin perhiasan yang mereka miliki.

Sang Suami hendak berangkat bekerja: mencari ikan di Sungai Nil. Cincin yang rencananya akan ia jual di pasar sudah ia simpan rapi di saku bajunya.

Rutinitas mencari ikan hari itu biasa saja baginya, kecuali sejak ia meraba saku yang tak lagi menyimpan cincin harapannya itu.

"Ke mana cincinnya?", ia mencari dengan gundah di setiap sudut perahu kecilnya. Tatapan matanya terhenti pada air bayangan wajahnya yang sedih bercampur panik dan bingung.

Sampai di rumah ia malah disambut kepanikan istrinya yang memberondong pertanyaan menyudutkan.

"Di mana?? Bagaimana bisa, mas?? Oh, kenapa ti..", ia sudah tidak paham apa lagi yang istrinya pertanyakan.

Esok hari, ia berziarah di makam Syeikh Ali al-Khawwash. Ia bertawassul dalam keluh kesah doanya, "Allah.. Cincin itu benar-benar sangat berharga bagi kami. Bisakah Engkau kembalikan pada kami? Dengan doaku di makam kekasih-Mu ini, Ya Allah.. kembalikan cincin satu-satunya milik kami itu. Ya Rabb.."

Ia tak langsung pulang. Ia berangkat menjalankan rutinitasnya di sungai: mencari ikan.

Tak lama bereselang, ia bertemu temannya yang mengajaknya berbincang, "Kamu sudah cari? Kamu yakin itu hilang di sungai? Kalau begitu, berdoalah, kawan.. Kalaupun kita tidak termasuk orang yang dekat dengan Tuhan, di sana itu ada orang yang menjadi kekasih-Nya, ia yang benar-benar dekat dengan Tuhan. Cobalah bertawassul dengannya."

"Sudah.", jawabnya.

Harapan satu-satunya sekarang adalah doanya bisa terkabul, meski jika dicerna akal terasa berat. Kemungkinannya seberapa: cincin sekecil diameter jari, hilang di sungai sebesar Nil, lantas berharap ketemu?

Di penghujung hari, ia pulang membawa hasil tangkapannya. Tak banyak. Sama seperti hari-hari biasanya. Namun, cukuplah untuk membuat dapur mengepul dan pantas disandingkan dengan 'isy (roti khas Mesir: makanan pokok).

Sampai rumah, ia menuju dapur memberikan hasil tangkapan itu pada istrinya untuk diolah.

Di tengah ia istirahat, istrinya berteriak histeris memanggilnya, "Mas..mas.. Ini bukannya cincin kita?? Ini mas!"

Istrinya menunjukkan cincin persis seperti yang hilang dengan tangan yang belepotan kotoran hasil mengolah ikan. "Ini, mas.. Ini! Ini cincin kita!"

"Iya?? Yang benar saja? Iya, itu cincinnya! Alhamdulillah.. Alhamdulillah Ya Rabb!", pada muka mereka membuncah kebahagiaan yang beberapa hari itu surut.

Di tengah kebahagiaan yang masih memancar, Sang Suami ingat dengan doanya di makam waliyullah Syeikh Ali al-Khawwash. Mendengar hal itu, istrinya pun mengiyakan inisiatifnya untuk tidak memakan satu ikan yang membawa kembali cincin mereka. Ia akan membersihkan dan menggantungnya di atas makam Syeikh Ali al-Khawwash.

"Aku akan pasang di sana agar para peziarah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Allah Swt. memberikan karamah pada Syeikh Ali al-Khawwash bahkan meski ia telah wafat."

Terhitung sudah 200 tahun lebih semenjak kisah ini ramai di sekeliling warga sekitar dan para peziarah saat itu.

Tak ada secarik kertas pun yang mengabadikannya dalam tulisan. Cari saja di catatan sejarah manapun, di kitab biografi apapun, tak akan kita temui kisah ini.

Meski demikian, kisah ini tetap abadi dari satu guru ke muridnya, dari satu kakek ke cucunya. Bahkan bukan hanya kisahnya yang abadi, ikan yang ada dalam kisah ini pun masih terlihat jelas dan belum lapuk walau tidak ada orang yang berinisiatif mengawetkannya, misal dengan balsem atau semacamnya.[]
______________________________
Tidak ada paksaan untuk mempercayai kisah ini. Namun, kalau ingin mendengar sendiri kisahnya secara langsung, sekaligus melihat seperti apa wujud ikannya dari dekat. Berziarahlah dan temui imam masjidnya..

Sahabat sarkubmesir.net yang hendak berziarah, bisa meminta kunci pada kakek tukang laundry di depan masjid. Tak usah ragu, ia baik hati dan ikhlas bahkan menolak saat diberi alawah, seberapapun besarnya.

Shollu ala Sidnannabi!





Ali al-Khawwash dan Tasawwuf


[Dok. Ziarah Bab Nashr; 22 Aug '14 ]
Makam Waliyullah; Ali al-Khawwash.
____________________________
Lanjutan kisah dari postingan sebelumnya (25 Agustus '14)..

Ali al-Khawwash dan Tasawwuf
Dalam masalah tasawuf, ia juga mempunyai komentar menarik, "Seseorang tidak akan sampai pada jajaran ahli-tarekat kecuali ia 'alim dalam ilmu syariat; mujmal mubayannya, nasikh mansukhnya, khos dan am-nya. Orang yang tidak menguasai masing-masing dari hal tersebut, ia gugur dari jajaran tokoh tarekat."

Mendengar pernyataan semacam itu, murid kesayangannya, Sya'rani bertanya, "Kalau begitu, para syeikh sekarang jatuh dari derajat ini, sebab mereka buta dalam masalah syariat, guru?"

Ali al-Khawwash menjawab, "Ya, benar. Mereka mengarahkan manusia pada sebagian jalan agama saja. Padahal para sufi adalah orang yang -meskipun sendirian- mampu memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat, baik masalah syariat maupun hakikat."

Kehebatan tokoh satu ini juga meliputi permasalah 'khalwat'. Dalam hal ini, ia mengatakan, "Menyendiri, menyepi dengan Allah saja, yang dalam dunia sufi dikenal dengan sebutan khalwat, tidak mungkin dilakukan kecuali oleh Wali al-Qutb al-Ghauts pada setiap masa. Ketika badannya berpisah dengan nur-nya dan berpindah ke alam akhirat, Allah mengganti sang wali tersebut dengan wali lainnya."

Dalam hubungan murid dengan guru, ia mengutarakan, "Seharusnya para murid itu mengutarakan penyakit hatinya pada gurunya. Jika ia mempunya hati yang jelek, gurunya akan menunjukkan jalan kesembuhannya. Kalau sampai ia tak melakukan hal itu karena malu, ada kemungkinan ia mati tetap dengan penyakitnya itu."

Ali al-Khawwash mempunyai banyak perkataan yang belum pernah diucapkan oleh siapapun.

Suatu ketika, ia berbicara tentang epistem manusia, "Al-Idrak (episteme / ilmu pengetahuan) adalah sifat akal; [berupa] pendengaran, penglihatan, perasaan, dan penciuman. --- Kesenangan dan marah adalah sifat nafsu. ---
Mengingat, senang, pasrah, dan sabar adalah sifatnya ruh. ---
Fitrah, cahaya, hidayah, keyakinan adalah sifat rahasia (sirr). ---
Akal, nafsu, ruh, sirr, semua itu sifat manusia."
___________________________
Ada sebuah kisah tentang salah satu karamah beliau yang sampai sekarang bisa kita lihat jika berziarah di makam beliau. Bahkan di foto ini pun sekarang nampak jelas. Apa itu?

Kisah selanjutnya tentang Syeikh Ali al-Khawwash, Sang Sufi Nan Laduni ada di postingan berikutnya..

Shollu ala Sidnannabi!
___________________________
Sahabat sarkubmesir.net yang hendak berziarah, bisa meminta kunci pada kakek tukang laundry di depan masjid. Tak usah ragu, ia baik hati dan ikhlas bahkan menolak saat diberi alawah, seberapapun besarnya.

Sunday, August 24, 2014

Makam Waliyullah: Ali al-Khawwash

[Dok. Ziarah Bab Nashr; 22 Aug '14 ]
Bersama Imam Masjid Ali al-Khawwash.
____________________________
Syeikh Ali al-Khawwash merupakan salah satu waliyullah paling tenar dari daerah Burullus, provinsi Kafru Syaikh. Di sekitar pesisir Burullus terdapat banyak kelompok wali yang disebut al-Syurafa' al-Amiriyyah.

Sejarawan Islam Al-Maqrizi mencatat, "Mereka berasal dari suku Quraisy; dari Bani Adiy dan Ka'ab. Sebagian dari mereka memegang dinas rahasia raja-raja Turki (Utsmaniyyah) di Kairo dan Damaskus selama kira-kira seratus tahun."

Syaikh Ali al-Khawwash tumbuh dalam keluarga miskin sehingga ia harus bekerja sejak kecil. Mula-mula, ia keliling menjajakan sabun dan kurma. Sesampainya di Kairo, ia beralih membuka toko minyak untuk beberapa tahun. Kemudian berganti pekerjaan menjadi pengrajin keranjang. Karena pekerjaan inilah ia dijuluki al-Khawwash (si pembuat keranjang).

Dalam kondisi serba kekurangan, Syeikh Ali al-Khawwash sangat dermawan dan rendah hati. Setiap Jumat, ia selalu berkhidmah untuk masjid-masjid, bersedekah pada fakir miskin dan yang membutuhkan tanpa memperhitungkan berapa yang ia keluarkan dan bagaimana nanti makan.

Imam Masjid yang menyambut kami juga bercerita banyak bahkan sampai pada hal-hal yang memang di kitab tidak tertulis; hanya ada turun temurun dari satu guru ke muridnya, dari satu kakek ke cucunya. Syeikh Ali al-Khawwash mewajibkan dirinya mengerjakan hal-hal yang terkait "pengatur air", membersihkannya. Ia mengambil waktu tengah malam guna diam-diam membersihkan WC, dari satu masjid ke masjid lainnya.

Kisah selanjutnya tentang Syeikh Ali al-Khawwash, Sang Sufi Nan Laduni ada di postingan berikutnya..

Shollu ala Sidnannabi!
___________________________
Sahabat sarkubmesir.net yang hendak berziarah, bisa meminta kunci pada kakek tukang laundry di depan masjid. Tak usah ragu, ia baik hati dan ikhlas bahkan menolak saat diberi alawah, seberapapun besarnya.

Makam Ali -Zaynal Abidin- ibn Hussein ibn Ali ibn Abi Thalib

[Dok. Ziarah Thaba-thaba]
Kompleks Masjid & Makam Ali -Zaynal Abidin- ibn Hussein ibn Ali ibn Abi Thalib.
_______________________________
Sejarawan Islam al-Maqrizi dalam kitabnya al-Mawa'idh wal I'tibar menafikan kebenaran nisbat nama Ali Zaynal Abidin pada makam ini.
Ia menulis, "Penamaan makam Zaynal Abidin oleh kebanyakan orang ialah sebuah kesalahan (salah-kaprah). Makam ini ialah milik kepala Zaid, putra Ali Zaynal Abidin."

Zaid ibn Ali -zaynal abidin- ibn Hussein ibn Ali ibn Abi Thalib inilah yang menjadi nisbat pada Syi'ah-Zaidiyyah; golongan syi'ah yang paling besar dan paling banyak memiliki pemikiran moderat serta kedekatan dengan Ahlussunnah. Dukturah Soad Maher menulis, "Hal itu mungkin karena merujuk pada imamnya, yakni Zaid ibn Ali -zaynal abidin- yang berguru pada Washil ibn Atha'.."

Syi'ah-Zaidiyyah banyak tersebar di Thabaristan (kini masuk Iran, tepi Laut Kaspia / lereng utara & selatan pegunungan Alborz) dan Yaman. Penganut Syi'ah-Zaidiyyah tidak menggunakan 'sistem keturunan' dalam memilih imamnya, melainkan dengan beberapa syarat tertentu.

Kembali pada pembahasan keabsahan makam; Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim juga menafikan kebenaran penamaan yang sudah kadung masyhur dengan Ali Zaynal Abidin. Syaikh Zaki menuliskan, "Makam ini merujuk pada kepala Zaid, putra Ali Zaynal Abidin. Sementara itu, jasad atau badannya tidak diketahui secara pasti di mana berada. Makam Ali Zaynal Abidin berada di Madinah Munawwarah."

[beberapa teks penafian yang senada dengan al-Maqrizi, Dukturah Soad Maher, dan Syaikh Zaki bisa kita lihat di link kolom komentar]

Profil Sidi Ali Zaynal Abidin yang bergelar Sajjad (bermakna: yang banyak melakukan sujud) dan kisah-kisah menarik tentangnya akan kami ulas pada postingan lain.

Shollu ala Sidnannabi!
---
BONUS Syair milik Farazdaq tentang Sidi Ali Zaynal Abidin (kisahnya di postingan selanjutnya)
هذا الذى تعرف البطحاء وطــــــأته ^^^ والبيت يعرفه والحل والحرم
هذا ابن خير عباد الله كلهم ^^^ هذا التقى النقى الطاهر العلم
اذا رأته قريش قال قائلها ^^^ الى مكارم هذا ينتهى الكرم
هذا ابن فاطمة ان كنت جاهله ^^^ بجده أنبياء الله قد ختموا
_____________________________
source:
- al-Mawa'idh wal I'tibar; (al-Maqrizi)
- Milal wa Nihal; (Muhammad al-Shahrastani)
- Masajid Mishra wa Awliyauhaa; (Dukturah Soad Maher)
- Maraqid Ahli Bayt Nabi fil Qahirah; (Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim)
- Nushratin Nabi al-Mukhtar fi Ahli Baytihi al-Athhar; (Adil Sa'd Zaghlul dan Ragab Abdussami' Mahmod)
- Diskusi Forum (montada) Online Duktur Mahmod Sobieh

Ziarah & Ekspedisi - Kompleks Bab Nashr

Kabar Gembira!

Kabar gembira bagi pecinta ziarah di Mesir; besok Jumat, 22 Agustus 2014, sarkubmesir.net akan mengadakan ZIARAH & EKSPEDISI beberapa makam di sekitaran Bab Nashr, Gamaleya, Kairo.

Ziarah kali ini akan difokuskan pada ekspedisi, pencarian beberapa makam yang sudah masyhur keberadaannya (di Bab Nashr) namun belum diketahui posisi tepatnya.

Tokoh yang sudah diketahui:
- Sidi Ali al-Khawwash
- Syeikh Ibnu Hisyam; Nahwu
- Syeikh Abdulwahhab Sya'rani
- Syeikh Syihabuddin ar-Ramli

Ekspedisi makam:
- Sidi Ibnu Khaldun
- Syeikh Ibnu Naqib, penulis 'Umdatussalik wa 'Uddatunnasik
- Syeikh Jalaluddin Mahalli
- Syeikh Taqiyuddin as-Subki
- Syeikh al-Bulqini (gurunya para guru)

Gabung dengan kawan-kawan lain di Babul Futuh, pukul 9 pagi.
Informasi lebih lanjut, hubungi kami di fb atau kontak nomer berikut:
- 01129011242 (Hakam Zein)
- 01144328851 (Mu'hid)

Shollu ala Sidnannabi!

Makam Syaikh Muhammad ibn Salim al-Hifni

[Dok. Qarafah - Ziarah Menyambut Ramadhan]
أمام مقام الإمام الشيخ محمد بن سالم الحفني - ثامن شيوخ الأزهر الشريف
(1767 M. - 1688 M. / 1181 H. - 1100 H.)
Tahlilan di depan makam Grand Syaikh Azhar ke-8; Syaikh Muhammad ibn Salim al-Hifni as-Syafi'i al-Khalwati.

NAMA LENGKAP:
Nagmuddin Abul Makarim Muhammad ibn Salim ibn Ahmad al-Hifni as-Syafi'i al-Khalwati.

Nasabnya sampai pada Sayyidina Hussein (cucu Rasul Saw.) melalui jalur ibu dari ayah Syaikh al-Hifni.

LAHIR
Syaikh al-Hifni lahir pada tahun 1100 H./1688 M. di sebuah desa bernama Hifna, kecamatan Bilbis, provinsi Syarqiya.

Sejarawan al-Jabarti memberikan catatan tentang penisbatan syaikh pada desanya, Hifna, "Nisbat ke desa itu jadi Hifnawi (dengan atau tanpa alif bakda nun) atau Hifni. Nisbat itu mengalahkan namanya sampai-sampai ia tak disebut kecuali dengan nisbat Hifna itu."

MASA BELAJAR
Masa kecil Syaikh al-Hifni bermula dari menghafal Alquran di desa.

Saat itu, ia baru sampai Surat as-Syu'araa namun syaikh di desanya; Syaikh Abdurrauf al-Bisybisyi memberikan saran pada ayahnya agar segera mengirimkan putranya itu ke al-Azhar.

Ayah Syaikh al-Hifni berpikir sejenak. Bagaimana tidak? Putranya baru berumur 14 tahun dan belum pula menyelasaikan hafalannya.

Setelah ayahnya yakin, berangkatlah al-Hifni kecil untuk 'nyantri' di al-Azhar yang memang pada saat itu lebih mirip pesantren salaf di Indonesia. Masjid al-Azhar dahulu menjadi tempat belajar sekaligus asrama bagi santri-santri dari seluruh penjuru daerah bahkan dunia.

Setelah menyelasaikan hafalan Alquran, Syaikh al-Hifni kembali disibukkan dengan hafalan-hafalan lainnya. Menghafal matan memang tercatat sebagai budaya pelajar-pelajar al-Azhar pada masa itu. Ia menghafalkan Alfiyyah ibnu Malik (nahwu); Sullam (mantiq); Jauharah (tauhid); Rahabiyyah (faraidl); Abi Syuja' (fikih); dan masih banyak lainnya.

MURID-MURID
Pada saat itu, Syaikh al-Hifni -rahimahullah- mempunyai banyak murid. Ulama-ulama pada masa itu pun menyaksikan bagaimana seorang al-Hifni yang masih muda dikelilingi begitu banyak 'santri'.

Tidak berhenti sampai di situ, murid-murid Syaikh al-Hifni di kemudian hari menjadi syaikh-syaikh yang ilmunya juga terus bercahaya.

Tak heran; Syaikh al-Hifni mendapat gelar Syaikhu as-Syuyukh (gurunya para guru). Tercatat sebagai muridnya: Syaikh Ahmad ad-Dardiri, Syaikh Mahmud al-Kurdi, Syaikh Ali al-Qinawi, Syaikh Ismail al-Yamani, Syaikh Hasan al-Makki, Syaikh Ahmad al-Adawi.

Yang menjadi Grand Syaikh Azhar;
- Syaikh Abdullah Syarqawi, Grand Syaikh ke-11
- Syaikh Muhammad al-Mahdi al-Abbasi, Grand Syaikh ke-21

Yang kedua; ialah Syaikh Azhar yang ayahnya ialah seorang muallaf. Ayah Syaikh Muhammad yakni Sidi al-Mahdi al-Abbasi merupakan pemeluk Masihi (Kristen-Koptik) yang bersyahadat di tangan Syaikh al-Hifni. Dari sini kedekatan Syaikh al-Hifni dan keluarga al-Mahdi al-Abbasi berawal.

(semua nama yang tertulis di atas masuk dalam daftar Sadah Tarekat Khalwatiyah)

AKHLAK
Syaikh al-Hifni ialah seseorang yang berakhlak mulia, dikenal tawadhu', dan seringkali bersedekah (baik secara sembunyi maupun terlihat). Ia orang kaya yang tak lupa bagaimana rasa sulit yang ia juga pernah rasakan dahulu. Pada dirinya tergambar kewibawaan yang diiringi kedermawanan.

Sejarawan al-Jabarti dalam Aja'ibil Atsar mencatat, "Ia alim allamah, satu-satunya orang seperti itu (dari segi ilmu dan amal) di zamannya. Ia tahu apa yang belum diketahui kebanyakan. Ia dikaruniai kesempurnaan dan ketelitian, di setiap cabang ilmu; ia ada di posisi depan. Ialah Syamsul Millah wa ad-Din Muhammad ibn Salim al-Hifnawi as-Syafii al-Khalwati.

Guru-gurunya menjadi saksi atas keutamaan dan keilmuannya. Ia memulai hidup sebagai orang yang miskin bahkan fakir. Dulu, ia menulis (saat itu belum dengan cetak) beberapa matan untuk murid-muridnya. Dari situ ia bisa mencukupi hari-harinya.

Sampai pada harta yang cukup, ia berhenti menulis (naskh) lalu fokus menyusun syair-syair serta karya tulis lain. Pada kemudian hari, ia dikenal sebagai penyair yang keilmuannya luas. (Adib; Sya'ir; Natsir)

KARYA TULIS
Banyak sekali karya tulis yang dihasilkan Syaikh al-Hifni, di antaranya:
- Hasyiyah ala Syarh al-Asymuni Alfiyah ibnu Malik
- Hasyiyah ala Syarh al-Hamziyyah Ibnu Hajar al-Haytami
- Hasyiyah ala al-Jami' as-Saghir li Suyuthi (Hadits)
- Tsamrah Bahiyyah fi Asma'i Shahabah Badriyyah (Tarikh)
- Hasyiyah ala Syarh al-Hafid ala Mukhtasar Jaddihi as-Sa'd at-Taftazani (Balaghah)
- masih banyak lainnya terutama pada bidang Adab, Sastra.

WAFAT
Syaikh al-Hifni wafat pada hari Sabtu, 27 Rabiul Awal 1181 H. (1767 M.) pada usia 80 tahun, dimakamkan pada hari berikutnya setelah disalatkan di Masjid al-Azhar yang disesaki banyak orang.
_______________________________
Semoga kita bisa mengambil contoh dari biografi singkat beliau. Kalaupun kita bukan orang yang sesaleh beliau, semoga anak-cucu keluarga kita bisa menuruni kebaikan beliau.

Kalaupun masih tidak, semoga kita dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mencintai orang saleh, sehingga kelak di hari akhir; kita dikumpulkan dengan orang-orang saleh yang kita cintai. Amin..

Shollu ala Sidnannabi!

Makam Nabi Danial BUKAN di Aleksandria

FOTO:
Sahabat Sarkub bersama Syeikh Ala dan Syeikh Abdullah, mursyid Tarekat Alawiyyah di Sudan & murid Syaikh Abdul Qadir as-Saqqaf di areal makam Nabi Danial. Aleksandria.
___________________________________________________

Berikut salinan jawaban dari salah satu Sahabat Sarkub yang bertanya. ~~~

Jamak kita ketahui, makam orang saleh itu lebih dari satu, banyak. Jangankan Nabi, orang saleh di Jawa saja bisa punya banyak makam.

Nah, ada 8 versi makam untuk Nabi Danial, kyai..
- Babylon, Kirkuk, & Muqdadiyah (ketiganya di Irak)
- Mosul (juga Irak)
- Susa & Mala Amir (keduanya di Iran)
- Samarkand (Uzbekistan)
dan pendapat yang terakhir di Iskandariyah.

Namun, dari berbagai literatur sejarah dan pendapat sejarawan, makam yang paling sahih ialah di Susa, Iran.

Yang menyedihkan ialah makam yang di Mosul. Kemarin ikut diledakkan oleh Da'isy / ISIS.
___________________________
Untuk Iskandariyah (seperti yang panjenengan maksud), kyai.. Itu ada di Bada’iuz Zuhur fi Waqai’ ad-Duhur Hal. 194-195 (punya Muhammad bin Iyas Abul Barakat al-Hifny)

Namun ada yang menarik; ternyata cerita mirip dengan apa yg di Badai'uz Zuhur itu malah justeru cerita yang paling banyak untuk keabsahan makam di Susa, Iran.

Ceritanya (cerita tentang penemuan makam) bukan saat Ekspansi Iskandariyyah, melainkan saat Ekspansi Susa. Orang yang menemukan makam terkunci ialah Abu Musa al-Asy'ari (bukan spt di Badai'zuhur yg tertulis Amr ibn Ash). Cerita selanjutnya sama yakni laporan pada Khalifah Umar bin Khattab dst.

di al-Durar al-Kaminah nya, Ibnu Hajar al-'Asqolani menuliskan tokoh bernama Syaikh Muhammad Danial al-Mausili, salah satu masyayikh Syafiiyah pada masa itu. Ia datang ke Iskandariyah pada akhir abad ke-8 Hijriyah.

Kemudian, mengajar faraidh, ushul fikih syafii di masjid (yang kemudian hari dinisbatkan padanya; alias Danial) sampai wafat pada tahun 810 Hijriah.
___________________________
Karena tidak kuatnya pendapat yang mengatakan di Iskandariyah, maka poin ke-8 dihapus. Kota Susa di Iran yang paling absah.

Dukturah Su'ad Maher dalam Masajid Mishra wa Awliyauha as-Shalihun pun berpendapat Kota Susa lah yang tepat. Sedangkan Aleksandria itu hanya salah-kaprah penduduk setempat sebab memang namanya mirip antara Danial (nabi) dan Syaikh Muhammad Danial al-Mausili.

Sebagai tambahan, di Aleksandria memang gudangnya tempat-tempat yang penisbatannya menuju Nabi-nabi (nabi Bani Israil yang ada di Yahudi, Kristiani, maupun Islam).

Ada Masjid Sulayman di Qintara Sulayman, ada Masjid Khidir di Qaysariyah, yang paling masyhur Masjid Danial di dekat stasiun kereta. Wallahu a'lam.
_____________________________
Bagi teman-teman yang ingin membaca lebih detail; berikut beberapa rujukan:
- Masajid Mishra ~ Dukturah Suad Maher
- Durar Kaminah fi A'yan al-Miah ats-Tsaminah ~ Ibnu Hajar Asqolani
- Zubdah Kasyfil Mamalik Farag ad-Din adz-Dzohiri (Naib Kesultanan Iskandariyah ada Masa Mamluki).

atau ikut muntada duktur Mahmud Sobieh.
di sini http://www.msobieh.com/akhtaa/viewtopic.php?f=17&t=15791

atau ikut Nyarkub dengan teman-teman lain..

Tari Sufi Mesir: Tannoura

Tari Sufi Mesir ini akrab dengan nama Tanoura
[untuk Bag. 2 & beberapa video ter-update lain; ada di
channel Sarkub Mesir]



Tari ini berkiblat pada tari sufi di Turki yang diprakarsai oleh Jalaludin Rumi.

Tari sufi yang sudah menjadi salah satu ikon Mesir ini konsepnya tidak jauh berbeda dengan yang kita tahu dari tari sufi Turki. Namun, karena sudah mengalami asimilasi budaya; variasi gerakan, kostum, dan pengiringnya terlihat lebih semarak pada tari Mesir ini.

Pada video ini, tari dibawakan oleh grup tari sufi bernama Darawish, grup yang sudah punya nama di Mesir dan sering ikut-serta dalam event-event besar, baik berskala nasional maupun internasional.

Sahabat Sarkub Mesir, Miftah at-Tigholy mengabadikan video ini di acara Ramadhan Event di sebuah rumah budaya; Bayt Suhaymi, al-Muizz Street, Egypt. Selamat menikmati! :)
___________________________
video lainnya silakan kunjungi:
~ channel Youtube sarkubmesir.net di [https://www.youtube.com/user/SarkubMesir]
~ kunjungi website kami di [https://www.sarkubmesir.net/]

Makam Syaikh Abdu Rabbuh Sulaiman

[Dok. Qarafah - Ziarah Menyambut Ramadhan]
Bersama dzurriyah Syaikh Abdu Rabbuh Sulaiman. (Min Sadah Tarekat Khalwatiyyah)
--- 


Alkisah, Ahmad Thayyib kecil diajak sang kakek bersilaturahmi di kediaman Syaikh Abdu Rabbuh Sulaiman yang pada saat itu sudah menjadi Syaikh Tarekat Khalwatiyyah.


Dalam pembicarannya Syaikh Abdu Rabbuh menyampaikan dengan redaksi yang berbeda namun bermaksud sama,


"Kamu, Ahmad, kelak akan menjadi Syaikh Azhar. Menjadi Syaikh Azhar yang berhadapan dengan saudara-saudara kita yang memiliki pemikiran ekstrem, baik dalam muamalah maupun politik."


Tentu tidak ada yang menyangka bahwa apa yang dikatakan Syaikh Abdu Rabbuh pada Ahmad Thayyib kecil menjadi kenyataan sekarang. 

Ya, Ahmad Thayyib kecil yang dulu bersama kakeknya sowan, sekarang telah menjadi Grand Syaikh Ahmad Thayyib sesuai dengan deskripsi Syaikh Abdu Rabbuh Sulaiman.

Quote (1) Syeikh Mukhtar Mukhsin


Jangan pernah bersedih selama kita tetap berjalan di atas manhaj Rasulullah Saw. Sebuah manhaj yang dihiasi oleh ilmu dan akhlak serta selalu dijunjung tinggi oleh Al-Azhar. Percayalah bahwa pertolongan Allah sangat dekat.

Kita telah menyaksikan bagaimana manhaj Khawarij yang tersebar di beberapa negara sehingga berujung kepada perpecahan dan pertumpahan darah.

Semoga kita selalu terhindar dari manhaj Khawarij tersebut dan juga dari kelompok-kelompok yang penuh dengan kebohongan dan kesesatan.

Teguhkanlah kepercayaanmu kepada Allah dan kepada para ulama. Berikhtiarlah setiap hari dengan terus berbuat baik karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.

-Syekh Mukhtar Muhsin

Menelisik Makam Keluarga Thaba-thaba

Jumat, 1 Agustus 2014, Komunitas Sarkub Mesir mempunyai agenda ziarah Idul Fitri ke Ahlul Bayt di Kairo. Namun, ada satu yang spesial pada agenda kali ini, sebab ada satu destinasi yang kami belum pernah ke sana. Di manakah?
Makam Keluarga Thaba-thaba.

Makam ini terletak di Jalan Ein al-Sirah, kompleks peninggalan Thaba-thaba (dekat danau). Kurang lebih 500 meter ke arah barat dari Masjid & Makam Imam Syafii.

Thaba-thaba ialah: Abu Ishaq Ibrahim ibn Ismail ad-Dibaj ibn Ibrahim al-Ghamri [as-Syahid al-Maqtul] ibn Abdillah ibn Hasan al-Mutsanna ibn Hasan as-Sibth ibn Ali ibn Abi Thalib [suami Fathimah al-Batul bintu Rasul Saw.]

Sejarawan Islam Ibnu Khallikan dalam Wafayat al-A'yan menegaskan bahwa tidak ada ulama nasab yang berbeda pendapat dalam penasaban tokoh ini.

Kebanyakan ulama hanya menambahkan bahwa meskipun demikian; Thaba-thaba ini tidak wafat di Mesir. (Yang ada di makam ini ialah keturunan-keturunannya)

Dijuluki Thaba-thaba sebab gaya tuturnya yang kurang jelas (gagap; sering mengulang lafal). Ia melafalkan Qaf menjadi Tha'.

al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdadi-nya berkisah;

"Saat Thaba-thaba datang ke Baghdad di masa pemerintahan Harun ar-Rashid, Sang Raja mengetahuinya.

Kemudian, utusan istana datang menemui Thaba-thaba bermaksud mengantarnya ke hadapan Harun ar-Rashid.

Thaba-thaba kalang kabut. Ia menyangka ada seseorang yang memfitnahnya di hadapan raja.

Lalu, sampailah ia di hadapan Harun ar-Rashid. Raja Harun berdiri dan menyuruh Thaba-thaba duduk di sampingnya. Obrolan belum berlangsung lama namun Harun ar-Rashid menangkap ada rasa ketakutan pada tamunya ini.

"Kamu kenapa, Aba Ishaq?", tanya Harun ar-Rashid.
“Rawwa’ani Shohibut Thaba. Yang memakai jubah (Harun ar-Rashid .red) membuatku takut.”, jawab Abu Ishaq.

Shohibut Thaba yang dimaksud di sini bukan dengan huruf Tha’ melainkan Qaf. Namun, karena lisan Abu Ishaq yang gagap dan tidak fasih jadilah Thaba, bukan Qaba (yang bermakna jubah; menyerupai qamish/diqlah).

Dari kisah gagap inilah Abu Ishaq dijuluki Thaba-thaba.

Versi kedua;
Suatu hari, Abu Ishaq menyuruh seorang anaknya mengambilkan pakaian.
“Ini saya, Pak.. Saya membawa pakaiannya.”, kata anaknya.
“Oiya, Thaba-thaba, Thaba-thaba.”, kata Abu Ishaq.

Thaba yang dimaksud di sini ialah Qaba, sejenis pakaian khas Arab dikhususkan untuk bepergian.

KETURUNAN THABA-THABA di Mesir
Keturunan Thaba-thaba yang pertama kali datang ke Mesir ialah al-Qasim ar-Rassi (Rassi nisbat pada nama desanya).

Ia membuka majelis di Masjid ‘Atiq (Amr ibn Ash). Orang-orang berkumpul untuk mendengarkan hadits-hadits yang ia sampaikan.

Kemudian, orang-orang berinisiatif mengumpulkan sumbangan. Setelah terkumpul, mereka menyerahkannya pada al-Qassim ar-Rassi. Namun, ia selalu menolaknya.

Semakin besarlah cinta masyarakat Mesir. Satu lagi yang masyhur: doanya dikenal mustajab.

KETURUNAN THABA-THABA di MAKAM INI
Baca lanjutannya di catatan / notes kami atau klik link berikut:
---[http://on.fb.me/1koX39V]---
________________________________
Sampai ketemu di agenda berikutnya!
Shollu ala Sidnannabi!

Makam Syaikh Muhammad Abduh


[Dok. Qarafah - Ziarah Menyambut Ramadhan]
"Nyekar" di areal makam Syaikh Muhammad Abduh.
___________________________
Setelah destinasi ini, Sahabat Sarkub Mesir menuju sebuah masjid di kompleks Madrasa & Makam Sultan Qaytbay.

Selain arsitekturnya yang mengagumkan, di masjid ini terdapat petilasan tapak kaki Nabi Saw. dan lutut Nabi Ibrahim as.

Sayangnya, kami hanya bisa melihat melalui jendela sebab pintu ruangan makam terkunci sedangkan kuncinya tidak dipegang oleh juru kunci yang saat itu mendapat jatah jaga.

___________________________
Bagi Sahabat Sarkub yang penasaran seperti apa dalamnya, berikut tampilan 3D yang bisa diakses online atau diunduh GRATIS.
1. Ruangan Makam Sultan Qaytbay: [http://bit.ly/1jLRsUQ]
2. Masjid bagian dalam: [http://bit.ly/1rvnWYy]

Sunday, August 17, 2014

Tujuh Poin tentang Sayyidah Zainab


Tujuh poin tentang Sayyidah Zainab;
[1.] Bapaknya bernama Ali ibn Abi Thalib.
[2.] Ibunya ialah Fathimah bintu Rasul Saw.
[3.] Saudaranya ialah Sidna Hasan & Sidna Hussein.
[4.] Dinamai Zainab oleh Nabi Saw. sebab ia ingin mengabadikan nama putrinya yang juga bernama Zainab; ia syahid di Badr (ditikam perutnya saat ia hamil).
[5.] Zainab bermakna perempuan yang mempunyai kekuatan terpendam, namun pengasih lagi cerdik.
[6.] Sayyidah Zainab (biasanya ditambahi; al-Kubra) ialah orang yang berjasa menyelamatkan keturunan laki-laki terakhir Sayyidina Hussein di tengah kecamuk Karbala. Keponakan kecilnya itu bernama Ali bergelar Zaynal Abidin.
[7.] Masuk ke Mesir pada awal bulan Sya'ban 61 H. bersama keponakannua; St. Sukainah, St. Fathimah; dan S. Ali Zaynal Abidin. disambut tangis haru dan langsung dipersiapkan kediaman di daerah Basatin Zahri (sekarang Distrik St. Zainab)
______________________________
Kulalui rumah-rumah, ya rumah-rumah milik Layla
Kuciumi dinding ini, juga dinding ini

Bukan pada rumah-rumah itu, aku mabuk cinta
Melainkan pada ia yang ada di dalamnya.

(Majnun Layla - Qays ibn al-Mulawwah)
______________________________
Syair ini mengingatkanku pada kisah Syaikh Sya'rawi dan Masjid Hussein.

Seorang yang tsiqqah (terpercaya), teman sekaligus guruku Dr. Muhammad Sa'd al-Masry.

Ia bercerita; suatu hari Syaikh Sya'rawi -rahimahullah- berziarah ke makam Sidna Hussein. Sesaat setelah pintu dibuka dan ia masuk untuk berziarah, Syaikh Sya'rawi menciumi dinding dan pembatas sekitaran makam.

Salah seorang lelaki di situ berdiri dan mempertanyakan atas apa yang dilakukan Syaikh Sya'rawi, "Anda orang yang alim! Tidak seharusnya Anda melakukan hal semacam ini! Ini hanya besi kenapa Anda menciuminya??"

Syaikh Sya'rawi menjawab dengan tenang, mengajaknya duduk untuk mendiskusikan hal tadi. Dimulailah percakapan mereka berdua.

Syaikh Sya'rawi mengawali, "Kita semua tahu, kulit (hewan) bisa dijadikan sepatu. Dengan sepatu itu kita menginjak banyak sekali najis. Tapi, saat kulit (hewan) dibuat sampul mushaf, hukumnya jadi lain. Jangan memegangnya kecuali kamu suci! ..."

Perbincangan terus mengalir sampai menjelang akhir.

Di akhir cerita, lelaki tadi merasa puas dengan dalil-dalil yang disampaikan selama perbincangan. Ia juga meminta maaf atas apa yang terjadi.

Salah satu adat orang Mesir untuk benar-benar bersalaman dengan penuh hormat ialah diikuti dengan mencium kepala lawan bicara. Si Lelaki mencium kepala Syaikh Sya'rawi.

Syaikh Sya'rawi berdiri dan marah tanpa ampun!

Si Lelaki bertanya bingung, "Kenapa Anda marah, Syaikh, saya kan tidak lagi membantah, malah saya sudah mencium kepala Anda???"

"Kata siapa kamu mencium kepalaku?? Kamu itu tadi mencium kopiah!", timpal Syaikh Sya'rawi.

"Bukan kopiah yang aku maksud, Syaikh. Maksudku itu yang ada di dalam kopiah.", jawab lelaki itu.

Syaikh Sya'rawi menyahut, "Aku juga bermaksud begitu. Bukan besi itu yang kumaksud! Yaa Sidna Hussein lah yang aku maksud.."[]

[Allahummaj'alnaa minal muntafi'ina bi 'ulumihi wa ssaairina ala nahjih. Amin.]