Latest Post

Syekh Ahmad Zahid, Kakek Guru Syekh Zakaria al-Anshari

Written By Mu'hid Rahman on Wednesday, April 29, 2015 | 7:12 PM

Makam Syekh Ahmad Zahid

Syekh Ahmad az-Zahid (819 H)
Ahmad bin Muhamad bin Sulaiman al-Fâwi, Syihabudin Abul Abas al-Qahiri al-Faqih as-Syafi’I terkenal dengan nama az-Zahid. Mengambil sanad tasawuf dari al-Quthb ad-Dimasyqi dan mengambil fikih dari ibnu al-‘Imad al-Aqfahisi (808 H). Beliau berasal dari desa Fau (Fa’, alif dan wawu), distrik Dasyna, propinsi Qina dan pindah ke Kairo untuk menetap disana sampai akhir hayatnya. Daerah yang dipilih untuk bertempat tinggal adalah Hay al-Huseiniyah.

Perihal mengapa terkenal dengan nama az-Zahid -padahal setiap wali besar pasti hidup dalam kezuhudan- adalah karena pada suatu malam beliau kedatangan seseorang yang ingin diajari ilmu kimia. Setelah selesai pelajaran, orang itu memberi 5 qintharah emas tanpa diketahui Ahmad. Pagi-pagi Syekh Ahmad mengetahui ada emas yang dihadiahkan kepada dirinya. Bukan perasaan senang yang ada, beliau menyuruh pembantunya untuk membuang emas tersebut di tempat pembuangan sampah/wc (khala). Pembantunya itu juga disuruh agar tidak memberitahukan kepada siapa-siapa agar orang yang memberi tidak tersinggung. Hal ini diceritakan oleh Syekh as-Sya’rani setelah mendapatkan penjelasan dari gurunya, Syekh Muhamad al-Hirifisy.

Az-Zahid kecil sudah menunjukan bahwa dirinya akan menjadi seorang wali agung. Suatu kali dia dimintai makanan oleh seorang yang tidak dikenal. Tanpa tanya az-Zahid memberikannya walaupun dia sendiri sedang lapar. Dia bersengaja untuk melatih kesabaran dan menahan diri dari lapar. Tak dinyana, orang tak dikenal tersebut merupakan seorang wali yang akan menuntun jalan az-Zahid dalam mengarungi suluk shufi.

Beliau menghasilkan karya dalam bidang fikih dan tasawuf. Kegiatan menonjol beliau selain menulis dan mendidik adalah merehab masjid-masjid yang hampir roboh dan meramaikannya dengan pengajian.

Karya:
  1. Risâlah an-Nûr, empat jilid.
  2. Bidâyah al-Mustarsyid
  3. Tuḥfah al-Mubtadi wa Lum’ah al-Muntahi
  4. Sittîna Mas’alah
  5. Mukhtashar Ahkâm al-Ma’mûm wa al-Imâm karya Ibnu Imad
  6. Hidâyat al-Muta’alim wa ‘Umdat al-Mu’alim.
  7. al-Bayân as-Syâfi fî al-Hajj al-Kâfi.
  8. Hadiyah an-Nashîh.
  9. al-‘Uddah ‘inda as-Syiddah.
  10. Thalab az-Zâd li Yaum al-Ma’âd.

Zahid al-Mashri merupakan kakek guru dari Syeikhul Islam sebab Zakaria berguru kepada Sayid abu Abdillah Muhamad bin umar al-Wasithi al-Ghamri as-Syafi’I (849 H), guru Syeikhul Islam dalam suluk dan thariqah. Syekh Zakaria membaca Qawa’id Shufiyah selama empat puluh hari di Mahallah Kubra, tempat dari al-Ghamri untuk kemudian balik lagi ke kairo. Al-Ghamri merupakan murid dari Syekh Ahmad az-Zahid.

Al-Ghamri merupakan murid terdekat dari Syekh Ahmad az-Zahid. Pernah suatu ketika al-Ghamri pulang dari Dimyath untuk suatu keperluan. Di perjalanan beliau membeli manisan untuk diberikan kepada gurunya. Akan tetapi, manisan itu tersapu angina dalam perjalanan dan jatuh ke air. Akhirnya ia membiarkannya begitu saja. Sesampai di rumah sang guru, ia ditanya tentang hadiah yang dibawanya, padahal sebelumnya dia tidak memberitahukan akan memberi gurunya sebuah bingkisan. Al-Ghamri menceritakan kejadian yang dialaminya di jalan. Dan ketika ia sudah selesai menceritakannya, sang guru meminta salah satu pelayannya untuk membawa bingkisan yang sama persis dengan bingkisan yang dibelinya tadi. Bingkisan itu masih meneteskan air pertanda baru saja diambil dari air.

Murid az-Zahid yang lain adalah Syekh Madyan al-Asymuni (862) dan Syekh Abdurrahman bin Buktumur (840). Ketiganya adalah murid-murid az-Zahid yang menjadi wali besar. Cerita keramat dan bagaimana kebesaran mereka berempat; guru dan murid dapat dibaca di buku Raf’u A’lami an-Nashr bi Dizkri Aulia Mishr karya Muhamad Khalid Tsabit dengan nomor urut biografi 37,38, 39 dan 41. begitu juga dapat diakses di Thabaqat Sya’rani, al-Kawâkib milik al-Munawi, Jâmi’ Karâmât al-Auliya milik an-Nabhani, ad-Dhau al-Lâmi’ karya as-Sakhawi dan Masajid Mishr karya Dr. Su’ad Mahir.

Wafat

Beliau wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 819 H dan dimakamkan di masjid yang dibangun oleh beliau. Masjid itu bertempat di Jalan Pasar az-Zalath (Suq az-Zallath), jalan kecil yang bersambung ke Jalan Bab al-Ahmar dan bermuara ke Meidan Bab as-Sya’riyah. Makam beliau selalu ramai para peziarah sampai sekarang.1

Jadi, makam beliau berdekatan dengan makam pengarang Syarah Sittina Masalah, Syekh Syihabudin ar-Ramli dan dekat pula dengan makam Syekh Abdul Wahab as-Sya’rani yang menuliskan biografi Syekh Az-Zahid yang juga merupakan murid dari Syekh Syihabudin ar-Ramli. Juga sangat dekat dengan makam imam al-Munawi dan Syekh Madyan al-Asymuni, murid beliau sendiri.


1 Lihat foto-foto masjid dan makam http://bit.ly/1zNxwOI, diakses pada 2/2/2015 M. dan untuk melihat dalam peta http://bit.ly/1zvCb4B, diakses pada 2/2/2015 M. Peta tersebut juga dapat melihat Hay al-Huseiniyah, tempat Syekh az-Zahid bertempat tinggal.

Khanqah Baybars Jashankir

Written By SarKub Mesir on Wednesday, April 22, 2015 | 10:20 PM

[Dok. Ziarah Bab Sya'riyah]
Alhamdulillah. Event ziarah Selasa kemarin berjalan lancar dan terima kasih untuk semua kawan. :)
_______________________________
FOTO:Khanqah Baybars II Jashankir.
Khanqah merupakan pusat kegiatan para sufi, sejenis zawiyah, ribath, atau tikkiye. Namun, kenyataannya bukan hanya sebatas tempat sufi berkontemplasi atau berkhalwat saja. Khanqah ini juga lebih menyerupai pondok pesantren yang mempunyai santri menetap dan melaksanakan proses belajar-mengajar.

Khanqah ini dibangun oleh salah satu sultan Dinasti Mamalik Bahri. Ialah Baybars II; al-Malik al-Muzaffar Rukn al-Din Baybars al-Jashnakir al-Mansuri. Lebih dikenal dengan Jashankir (bukan Jashnakir) yang bermakna Pencicip Makanan Raja. Dibangun sebelum ia menduduki takhta kerajaan.

Ibnu Khaldun tercatat pernah menjadi 'mudir' (direktur) di khanqah ini. Khanqah yang menampung 400 sufi, menghidupi 100 tentara, dan menjadi pesantren bagi anak-anak penduduk sekitar, bahkan dari berbagai penjuru. Makanan sehari-harinyanya ialah 3 lembar roti, daging, dan manisan.

Sejarawan Maqrizi berkisah dalam catatannya bahwa khanqah ini merupakan khanqah yang istimewa dan paling luas di Kairo. Ia menggambarkan bahwa khanqah ini juga dibangun dengan baik (dari segi arsitektur) dan dengan berbuat baik (tidak melukai hati penduduk, misal dengan penggusuran dsb.).

Beberapa bagian khanqah ini merupakan sisa-sisa bangunan zaman Fir'aun. Di bawah pintu masuk terdapat sederet aksara hiroglif yang masih bisa dilihat.

SYEKH AMIN AL-BAGHDADI
Dalam arsitektur Islam dikenal ungkapan: "Tahta alqubbah turbah". Kubah merupakan pertanda bahwa ada orang yang bersemayam di bawahnya.

Terdapat perselisihan pendapat mengenai keberadaan makam sultan Jashankir, karena beberapa literatur mengatakan lebih dari 2 kali makam sang sultan dipindahkan. Maqrizi mencatat bahwa di khanqah inilah sang sultan dipindahkan terakhir kalinya.

Lalu siapa Syekh Amin al-Baghdadi yang tertulis di dekat pintu masuk?

Beberapa sumber menyatakan bahwa beliau adalah mursyid Tarekat Naqshabandi. 

Beliau datang dari Sulaymaniyah (Irak) pada tahun 1914 M., tahun yang sama dengan wafatnya Syekh Amin al-Kurdi.

Karena beliau datang dari Irak (Sulaymaniyah), dan orang Mesir sebatas tahu bahwa 'Irak ya Baghdad', maka mereka menjulukinya Baghdadi.

MAKAM SYEKH AMIN BAGHDADI
Syekh Amin sempat mengisi kegiatan untuk kembali menghidupkan khanqah ini, khususnya untuk murid-muridnya di Tarekat Naqshabandi.

Di depan makam, beliau sering kali mengulang, "Si Zahir (yang dimaksud: Baybars II) ini tidak di sini. Zahir ini di Syam." Beliau sering berkata demikian ke muridnya.

Singkat cerita, Syekh Amin wafat pada tahun 1940 H. dan dimakamkan di kaki bukit Mokattam. Namun karena proyek perluasan jalan pada tahun 50'an, makam beliau dipindahkan.

Dari sinilah, kisah yang diyakini sebagai salah satu keramatnya dimulai. Gamal Abd. Nasser presiden saat itu menyetujui pemindahan jasad Syekh Amin ke khanqah di mana dulu ia mengajar. Bahkan disebut-sebut upacara pemindahan saat itu diiringi dengan upacara penghormatan militer. Orang-orang yang mengikuti pemindahan saat itu pun bersaksi bahwa cambang dan jenggot Syekh Amin masih basah seolah baru dimandikan.

Kalimat yang sering diulang itu seolah memberikan alamat bahwa beliau sejatinya akan dimakamkan di tempat ini.

Terlepas dari perselisihan di mana makam Sultan Baybars II atau seberapa valid (dari kacamata sejarah) kisah keramat Syekh Amin, kita seyogyanya mengambil ibrah dan pelajaran-hidup dari apa yang ada, terlebih dari orang-orang yang berperilaku baik tersebut. Berbuat baik pada sesama, pada semua, berbuat baik sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. 

Shollu ala Sidnannabi!

Sosok Maslamah ibn Mokhallad, Ziarah Sahabat di Kota Fustat

Written By Mu'hid Rahman on Monday, April 6, 2015 | 10:08 PM

[Dok. Menelisik Makam Sahabat di Kota Fustat]
-
Sahabat Maslamah ibn Mokhallad

Ia adalah Maslamah ibn Mokhallad ibn Shomit ibn Niyar ibn Laudzan ibn 'Abdi Wuddin ibn Zayd ibn Tsa'labah ibn Khazraj ibn Sa'idah ibn Ka'b ibn Khazraj [al-Anshari; al-Khazraji; as-Sa'idi].

Wali (gubernur) wilayah Mesir pada masa Muawiyah ibn Abi Sofyan. Ia menggantikan jabatan Sahabat Uqbah ibn 'Amir (makamnya di Qarafah Sughra; kompleks Imam Syafii).

Makam Maslamah berada di tengah pasar di jalan yang dikenal dengan nama "Mosalama", daerah Mishr Qadimah.

Terlepas dari ziarah adalah ritual batin (mengunjungi spirit ruh; bukan sekedar tempat), makam ini merupakan satu dari sekian makam sahabat yang diakui keabsahannya berada di Mesir.


SOSOK
Maslamah ibn Mokhallad lahir di saat Rasul Saw. bertolak menuju Madinah. Pendapat lain mengatakan, pada saat hijrah itu Maslamah sudah berumur 4 tahun.

Sahabat Maslamah ialah sosok yang wara' dan dikenal suka berlama-lama dalam ibadah, khususnya membaca Alquran.

Almaqrizi dalam catatannya menggambarkan. "[riwayat] Dari Mujahid, Saya pernah salat di belakang Maslamah. Ia membaca surah al-Baqoroh, tanpa meninggalkan satupun alif atau wau."

Sedangkan Alwaqidi menggambarkan, "Jikalau Maslamah sedang membaca Alquran di depan mihrab, suara jatuhnya air mata itu bisa terdengar."

Sosok Maslamah dikenal mempunyai penghayatan yang tinggi di kala membaca ayat-ayat suci. Oleh karena itu, bacaannya juga dikenal mampu mengoyak perasaan orang yang mendengarkannya.

Selain Gubernur Mesir, ia juga mempunyai peran yang penting dalam proses Fathu Mishr. Ia tercatat membawahi 1000 prajurit sama seperti Ubadah ibn Shomit, Miqdad ibn Aswad, dan Zubayr ibn 'Awwam.
_______________________
sarkubmesir.net Shollu ala Sidnannabi! :)

MAP: Makam Keluarga Thaba-thaba

Written By SarKub Mesir on Friday, February 20, 2015 | 11:11 PM

http://www.ikimap.com/map/makam-keluarga-thaba-thaba
Di kompleks makam ini dimakamkan anak turun Thaba-thaba (keturunan Sidna Hasan). Lebih lengkap klik di sini.


MAP: Makam Imam Abu Jakfar Thahawi

http://www.ikimap.com/user/sarkub-mesir
Koleksi Map lebih banyak di sini.


Jika ingin masuk ke kompleks Makam Keluarga Abu Jakfar Thahawi, tanyakan pada warga sekitar di mana rumah Ummu Asyraf. Minta izin pinjam kunci.

Biografi Singkat Syekh Ali Jum`ah

Written By SarKub Mesir on Thursday, February 19, 2015 | 12:51 AM

Biografi Singkat Syeikh Ali Jum`ah
Beliau adalah Abu Ubadah Nuruddin Ali bin Jum`ah bin Muhammad bin Abdul Wahhab bin Salim bin Abdullah bin Sulaiman, al-Azhari al-Syafi`i al-Asy`ari. Beliau lahir di kota Bani Suef pada hari Senin 7 Jumadal Akhir 1371 H/3 Maret 1952 M.

Beliau terlahir dari keluarga yang terhormat. Ibunya adalah Fathiyah Hanim binti Ali bin `Id, seorang wanita yang dikenal berakhlak baik, selalu menjaga salat dan puasa sejak masuk usia balig. Ibunya meninggal dengan doa kepadanya dengan ilmu dan kebaikan. Ayahnya adalah Syeikh Jum`ah bin Muhammad, seorang ahli fikih lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Kairo.

Syeikh Ali Jum`ah dibesarkan dalam didikan kedua orang tuanya, diajarkan tentang ilmu dan takwa, diajarkan akhlak dan kemuliaan. Sejak kecil telah terbiasa dengan banyaknya buku di perpustakaan ayahnya, bahkan hingga saat ini banyak dari buku warisan ayahnya masih tersimpan dengan baik di perpustakaan pribadi beliau.

Beliau memulai perjalanan intelektualnya pada umur lima tahun. Beliau mendapatkan ijazah madrasah ibtidaiyah pada tahun 1963 dan mendapatkan ijazah madrasah tsanawiyah pada tahun 1966 di kota Bani Suef. Di sana beliau menghafalkan al-Quran kepada beberapa syaikh hingga selesai pada tahun 1969.

Setelah menamatkan MTS pada tahun 1966, beliau berpindah ke kota Kairo bersama kakak perempuannya yang masuk ke Fakultas Arsitektur di Universitas Kairo. Syeikh Ali Jum`ah muda menamatkan jenjang pendidikan madrasah aliyah pada tahun 1969. Kemudian masuk ke Universitas `Ainu Syams dan mendapatkan gelar sarjana di fakultas perdagangan pada bulan Mei 1973.

Setelah mendapatkan gelar sarjana kemudian beliau belajar di al-Azhar, di sana beliau bertemu dengan para guru dan masyayikh. Kepada mereka beliau menghafal berbagai kitab ilmu-ilmu dasar, seperti kitab Tuhfatul Athfal dalam Ilmu Tajwid, kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam Ilmu Nahwu, kitab al-Rahabiyah dalam Ilmu Waris, kitab al-Ghayah wa al-Taqrib dalam Ilmu Fikih, al-Mandzumah al-Bayquniyah dalam Ilmu Mustalah Hadis, dan beberapa ilmu dasar lain yang menjadi awal batu loncatan beliau dalam melangkah kepada jenjang yang lebih tinggi lagi.

Beliau mendapatkan gelar sarjana (License) dari Fakultas Dirasat Islamiyah wa al-`Arabiyah Universitas al-Azhar Kairo pada tahun 1979. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di kuliah pascasarjana Universitas al-Azhar Kairo di Fakultas Syari`ah wa al-Qanun dengan spesifikasi Usul Fikih hingga mendapatkan gelar Master pada tahun 1985 dengan peringkat cum laude. 

Kemudian beliau mendapatkan gelar Doktor pada bidang yang sama dari universitas yang sama pada tahun 1988 dengan peringkat summa cum laude. Di samping itu juga beliau selalu menghadiri majlis ilmu di masjid al-Azhar mempelajari berbagai macam cabang ilmu dari pengajian di sana.

Di antara para gurunya adalah:
- Syeikh Abdullah bin Siddiq al-Ghumari, seorang pakar hadis pada zamannya, yang telah menghafal lebih dari lima puluh ribu hadis lengkap dengan sanadnya.
Syeikh Ali Jum`ah membaca di hadapannya kitab Shahih Bukhari, kitab Muwattha Imam Malik, kitab al-Luma` fi Ushul Fiqh karya Imam Syairazi. 

Syeikh Abdullah al-Ghumari memberikan beliau ijazah dalam meriwayatkan hadis dan telah memberi beliau ijazah dalam berfatwa. Beliau juga menganjurkan para muridnya yang lain untuk mengambil ilmu dari Syeikh Ali Jum`ah dan menyatakan bahwa beliau adalah salah satu muridnya yang terpandai di Mesir.

- Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, seorang ulama yang terkenal dengan keluasan ilmunya pada saat itu. Kepadanya beliau membacakan kitab al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari. 

Suatu saat Syeikh Ali Jum`ah melakukan penelitian ulang terhadap kitab Ushul Fiqh karya Syeikh Muhammad Abunnur Zuhair, dan beliau menuliskan ijazah yang beliau dapatkan dari Syeikh Muhammad Abunnur di dalam buku itu. Kemudian Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah berkata, “Kami terima ijazah buku ini darimu!”. Sebuah kehormatan yang besar bagi Syeikh Ali Jum`ah saat gurunya yang telah dikenal dengan keluasan ilmunya mengambil riwayat sebuah buku darinya.

- Syeikh Muhamamd Abunnur Zuhair, Wakil Rektor Universitas al-Azhar, seorang pakar Usul Fikih dari Universitas al-Azhar, anggota lembaga fatwa. 
Kepadanya Syeikh Ali Jum`ah membacakan kitabnya Usul Fikih yang memiliki tebal empat jilid di rumahnya. Dan Syeikh Muhammad Abunnur telah memberinya ijazah untuk mengajar dan berfatwa.

- Syeikh Jadurrabi Ramadhan Jum`ah, Dekan Fakultas Syariah wa al-Qanun Universitas al-Azhar saat itu, yang dikenal dengan sebutan “Syafi`i Kecil” karena keluasan ilmunya dan keahliannya dalam bidang fikih mazhab Imam Syafi`i. 

Syeikh Ali Jum`ah belajar fikih Syafi`i kepadanya, begitu juga belajar kitab al-Asybah wa al-Nazair tentang kaidah fikih karya Imam Suyuthi hingga beliau menghafalkannya. Syeikh Jadurrabbi suatu saat pernah berkata kepada Syeikh Ali Jum`ah di hadapan kawan-kawannya, “Penamu ini lebih baik dari penaku.”

- Syeikh Jadulhaq Ali Jadulhaq, Syeikh al-Azhar yang juga memasukkannya ke dalam lembaga fatwa.

- Syeikh al-Husaini Yusuf al-Syeikh, guru besar ilmu Syariah dan Usul Fikih di al-Azhar.
Bertukar Peci Saat Bertemu Sahabat Karib, Syekh Mohammad Hisham Kabbani di Changi Airport.

- Syeikh Abdul Jalil al-Qaransyawi al-Maliki, guru besar Ilmu Fikih di al-Azhar.

- Syeikh Abdul Aziz al-Zayyat.

- Syeikh Muhammad Ismail al-Hamdani.

- Syeikh Ahmad Muhammad Mursi al-Naqsyabandi.

- Beliau pun dikabarkan pernah mengikuti majlis riwayat hadis yang diajar oleh Syeikh Yasin al-Fadani.

Syekh Usamah Sayyid al-Azhari, salah seorang murid setia beliau menuliskan: “Beliau (semoga Allah meridhainya) datang ke masjid al-Azhar selepas terbit matahari, kemudian duduk di sana membuka pelajaran hingga tiga jam lebih setiap harinya. Mengajarkan berbagai macam cabang ilmu dari hadis, usul fikih, fikih, qiraah, dan berbagai cabang ilmu lain.”
“Allah telah menghidupkan kembali ilmu dan majlis ilmu di al-Azhar melalui beliau. Di al-Azhar kembali dibacakan buku-buku hadis, fikih, usul fikih, bahasa arab.”
“Setelah lama saya memperhatikan kecerdasan dan pemahaman beliau, saya melihat kemampuan beliau yang luar biasa dalam menyelesaikan permasalahan kontemporer dan kemampuannya dalam mengklarifikasinya terhadap pendapat-pendapat para ulama.”
Biografi yang lebih lengkap tentang perjalanan Syeikh Ali Jum`ah dalam mencari ilmu, mengajarkan ilmu, dan menghidupkan majlis ilmu di al-Azhar ditulis oleh murid beliau Syeikh Usamah Sayyid al-Azhari dalam kitab Asanid al-Mashriyyin. Biografi itu bisa dilihat di tautan ini: http://bit.ly/199Dk19 via Suara Al-Azhar

Perbedaan 'Maghfirah' dan 'Afwa'

Apa perbedaan antara maghfirah (pengampunan) dengan 'afwa (pemaafan)?

Maghfirah: Ketika Allah memaafkan dosamu, akan tetapi ia tetap tertulis dalam catatan amalmu.
Sedangkan ‘afwa: Ketika Allah memaafkan dosamu, dan menghapuskannya dari catatan amalmu, seakan-akan ia tidak pernah ada.

Karena itulah Rasulullah Saw memberikan nasihat kepada kita untuk memperbanyak doa ini:
(Allâhumma innaka ‘afuwwun karîm, tuhibbul ‘afwa fa’fu ’annâ)
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Memaafkan. Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah (dosa-dosa) kami.)

-Syekh Ahmad Thayyib

Quote: Syekh Ramadhan al-Bouti

Ulama rabbani akan senantiasa berbicara tentang pentingnya ikhlas dalam setiap amal. Mereka akan menegaskan bahwasanya ikhlas adalah ruh yang harus berjalan dengan semua amal taqarrub kepada Allah. 

Jika ruh ini tidak ada, maka ibadah akan menjadi seperti hantu yang tak bernilai dan seperti puing-puing bangunan yang tak berharga.

-Syekh Ramadhan al-Bouti (1929-2013)

Kata 'Sayyidina' Adab Kita Menyebut Rasul

Salah satu adab kepada Nabi adalah membacakan kalimat "sayyidina" kepada beliau setiap kali nama beliau disebutkan. Beliau adalah tuan kita, pemberi syafaat kita dan tempat perlindungan kita di hari kebangkitan.

Kita bisa memahami hal itu karena Allah subhanahu wa ta'ala memanggil semua nabi dengan nama-nama mereka. Adapun Nabi Muhammad, Allah tidak memanggil dengan nama beliau saja, tetapi Dia berkata, "Wahai Nabi, dan Wahai Rasul.."

-Syekh Ali Jumah