Friday, July 18, 2014

Syaikh Abdurrauf as-Sajini

[Dok. Qarafah - Ziarah Menyambut Ramadhan]
أمام مقام الشيخ عبد الرؤوف السجيني
(شيخ الأزهر التاسع 1181هـ - 1182هـ / 1767- 1768م)

Syaikh Abdurrauf as-Sajini as-Syafi'i al-Khalwati; ialah Grand Syaikh Azhar ke-9 [*]. Julukan kunyah-nya Abul Jud.

Sajini merupakan nisbat pada desa bernama Sajin al-Kom, kecamatan Qotour, provinsi Gharbiya.

Al-Jabarti dalam 'Ajaib al-Atsar fit Tarajum wal Akhbar menuliskannya dengan "laqob"; Al-Imam al-Allamah al-Faqih an-Nabiih Syaikhul Islam wa 'Umdatul Anaam; karena kecerdikannya mengurai berbagai permasalahan, mulai politik, sosial, dan kemasyarakatan.

Beliau lahir di Sajin pada tahun 1154 H. dari keluarga yang masyhur tentang kecintaannya pada ilmu. Sejak kecil sudah dididik dari lingkungan keluarga, tercatat sebagai salah satu gurunya ialah pamannya sendiri yang seorang ahli fikih, nahwu, ushul, dan bermadzhab syafii.

Keluarga ini memang terkenal kecintaan dan rasa hormatnya terhadap ilmu. Sejarawan Al-Jabarti juga meriwayatkan cerita dari Syaikh as-Siwasi; bahwa Syaikh Muhammad as-Sajini (ayah Syaikh Abdurrauf) tiapkali melewati tempat pengajian, beliau memperkecil langkahnya, berhenti, diam sejenak; lalu berkata,

"Subhanal Fattah al-'Aliim". (Maha Suci Allah, Maha Pembuka Rahmat, Maha Memiliki Ilmu)

Selengkapnya di Darul Ifta [http://bit.ly/1r6oTt9]
____________________
[*] Dikatakan Grand Syaikh Ke-8 jika dianggap posisinya menggantikan Syaikh Muhammad Salim al-Hifni yang wafat. Namun, setahun masa menggantikannya, Syaikh Abdurrouf menyusul wafat.

Quote (1) Dr. Mohammad Tawfiq Ramadhan Al-Bouti

Jika peluru dapat membunuh seseorang dan rudal dapat menghancurkan sebuah bangunan. Fatwa yang menyesatkan dapat menghancurkan negara dan membunuh umat manusia.

-Dr. Mohammad Tawfiq Ramadhan Al-Bouti, putra Syahidul Minbar; Syaikh Mohammad Said.

Empat Makam di Masjid Azhar

Di dalam masjid Al-Azhar ada 4 makam:
1. Syaikh Abdurrahman "Katkhuda"
2. Sayyidah Nafisah Al-Bakriyyah
3. Syaikh Jauhar Al-Qanqaba'i (Pendiri Madrasa Al-Umyan, Dars-nya Syaikh Thaha Hussein)
4. Syaikh [Amir] Ala'uddin At-Taybarsi

-Syaikh Zakariya Marzuq, Imam masjid Al-Azhar.

Saturday, July 12, 2014

Tanggapan Syekh Usamah tentang Deklarasi Khilafah ISIS di Iraq dan Suriah

Syekh Usamah Sayyid Azhari ditanyai pendapatnya tentang deklarasi khilafah Islamiyah yang dilakukan oleh kelompok Dawlah Islamiyah Iraq wa Syam (ISIS) beberapa waktu lalu. Beliau menjawab:

"Apakah sepanjang hidupmu kamu pernah mendengar bahwa seorang khalifah Rasulullah--yang Allah utus menjadi rahmat bagi semesta alam--, seorang khalifah yang menggantikan Rasulullah dengan cara menumpahkan darah? Membunuh tawanan perang? Merampas dan menghancurkan daerah-daerah? Bahkan mereka berbangga memenggal manusia dan mempertontonkannya di video.

Apakah seperti ini khilafah yang menggantikan Rasulullah—yang diutus menjadi rahmat bagi semesta alam--? Ini hanya omong kosong, isu yang akan segera hilang.

Jika benar mereka ingin membela Islam, maka semestinya mereka tidak mengacungkan senjatanya ke arah kaum muslimin. Padahal di dekat mereka ada Israel yang menjajah Palestina. Kita tidak pernah mendengar mereka berkata mengenai Israel. Kita hanya mendengar mereka memberikan ancaman ke Mesir, Jordania, Saudi, Suriah, dan negara-negara lain. Mereka tidak berbicara tentang Israel, padahal musuh kita sebenarnya adalah Zionis, bukan malah saling perang antara sesama muslim.

Saya mengingatkan kalian tentang sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban bahwa Rasulullah berkata (atau dalam maknanya), “Salah satu hal yang paling saya takutkan dari umatku adalah muncul seseorang yang membaca al-Quran dan mampu mendapatkan keindahan al-Quran, bahkan ia menjadi pelindung bagi Islam, namun kemudian ia mengarahkan senjatanya ke arah saudaranya dan menuduhnya dengan tuduhan kafir....”

Orang itu tidaklah bodoh, ia telah diberikan ilmu tentang al-Quran oleh Allah hingga ia mampu mendapatkan rahasianya, bahkan ia menjadi pelindung bagi Islam karena ilmu yang ia miliki. Namun kemudian pemahamannya keliru hingga akhirnya ia menyebarkan tuduhan kafir di tengah kaum muslimin.

Dan yang lebih bahaya dari itu adalah seseorang yang memiliki sifat demikian, lalu muncul di tengah masyarakat dan memperburuk keadaan, lalu ia mengklaim dirinya sebagai khalifah pengganti Rasulullah. Ini sebuah kejahatan terhadap agama.

Maka janganlah kalian terpedaya dengan isu ini, berhati-hatilah!

Dan peringatkan rekan-rekanmu yang bisa saja terpedaya dengan panggilan-panggilan jihad semacam ini. Peperangan mereka bukanlah sebuah jihad. Tidak ada jihad melawan kaum muslim sendiri. Maka berhati-hatilah!"

-Disadur dari pengajian Arba`in Nawawi pada hari Selasa, 8 Juli 2014, dengan sedikit penyesuaian.

Wednesday, July 09, 2014

Santri al-Azhar Tempo Doeloe


Santri Al-Azhar tempo dulu bertempat di pemondokan yang dinamakan ruwak. Ruwak-ruwak ini berada di samping kiri-kanan masjid. Penamaan ruwak ini disesuaikan dengan daerah asal penghuninya. Misal saja Ruwak Jawa dihuni oleh santri yang berasal dari Indonesia, Malaysia dan Philipina, Ruwak Magharibah untuk orang-orang Maghrib (Maroko, Tunis, Libya, Aljazair), Ruwak Jabarti ditempati oleh orang-orang dari daerah Jabart (Ethiopia), Ruwak Fasyaniyah ditempati oleh santri yang berasal dari daerah Fasyan, Mesir dan lain-lain.

Santri-santri yang bertempat tinggal di ruwak sebagian besar berasal dari kalangan yang kurang mampu. Ada juga penghuni ruwak yang berasal dari keluarga berada. Misal saja santri-santri yang berasal dari daerah Sha'id Mesir. Akan tetapi, jumlah mereka tidak seberapa bila dibandingkan dengan santri yang berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah. Santri golongan kedua ini juga banyak yang menyewa rumah di sekitar masjid al-Azhar. Mereka datang ke masjid pada jam-jam belajar saja.

Santri dari golongan ekonomi sulit terkenal dengan ketekunan dan kegigihan dalam belajar. Mereka itulah yang menjadi generator dalam setiap pengajian di ruwak-ruwak al-Azhar. Dari kalangan mereka muncul nama-nama besar semisal syekh Abdullah as-Syarqawi. Mirip dengan santri pesantren salaf, bukan?



 
Kelompok santri dari kalangan menengah keatas terekam kurang gigih dalam belajar. Maklum, lecutan semangat dalam diri mereka kurang jemether karena terbiasa hidup enak. Fenomena anak ulama besar yang malas-malasan mengaji juga terekam dalam buku itu. Katanya, kemalasan mereka disebabkan keulamaan sang ayah akan menitis pada diri mereka walaupun tanpa belajar.

Pengajian di Al-Azhar berlangsung satu minggu penuh. Libur mingguan dimulai setelah dzuhur hari kamis sampai pagi hari sabtu. Waktu liburan tersebut digunakan para santri untuk refreshing (diantaranya jalan-jalan ke tanjung bulaq dan berman bola), bersilaturahim (mencari tambahan kebutuhan hidup) dengan penduduk yang berdomisili disekitar al-Azhar dan bentuk kegiatan lain. Pada kesempatan liburan mingguan ini juga sering dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk mengundang mereka dalam haflah-haflah dan majlis-majlis keagamaan (Semisal jadi tukang qira', tahlilan). Lah, hal itu yang pasti ditunggu-tunggu. Sebab, kalau ada undangan perut kenyang, pulang bawa jajan dan sedikit uang.


 
Jum'at pagi adalah jadwal berziarah ke makam-makam ahlul bait. Diantara yang paling masyhur adalah berziarah ke makam Imam Husen, Sayida Zainab, Sayida Nafisah dan Sayida Aisya. Sebagian lain ada yang menawarkan diri jadi imam tahlil bagi penduduk. Maklum, orang Kairo tempo dulu pasti menyempatkan ziarah kepada makam sanak familinya di jumat pagi. Mereka biasanya mengundang salah satu santri Azhar untuk memimpin doa. Alhamdulillah, Jum'at memang selalu mendatangkan keberkahan, kata mereka.

Libur panjang tahunan dimulai dari bulan Sya'ban sampai pertengahan Syawal. Dalam liburan panjang ini, mereka yang punya ongkos pulang dan kampung halamannya tidak terlalu jauh dari Kairo pasti pulang. Sementara yang tidak punya ongkos ataupun punya ongkos tapi jarak kampung halamannya dengan Kairo cukup jauh memilih untuk bertahan di Al-Azhar. Biasanya, mereka baru pulang setelah bertahun-tahun belajar dan merasa sudah pantas untuk pulang.

Monday, July 07, 2014

Ali ibn Abi Thalib | Seri ke-1 ~ Ahlu Bait Nabi Saw.

AYAH
Ayahnya ialah Abu Thalib (Paman Nabi Saw), saudara kandung Ayah Nabi Saw: Abdullah ibn Abdul Muthalib.

IBU
Ibunya ialah Fatimah binti Asad ibn Hasyim.
Rasulullah memanggilnya "Ibu". Saat wafatnya, Rasul Saw mengkafani dengan pakaiannya, menyandarkan sampai liang lahat, dan berdoa untuknya. Lantas Rasul Saw berkata: "Engkaulah Ibu setelah ibuku."

JULUKAN
Julukan Imam Ali ra.: Abu al-Hasan.
Nabi Saw menjulukinya: Aba Turab.
(Cover depan Maraqid Ahli Bayt)
Ia bersama Nabi Saw sejak kecil, diasuh layaknya putra sendiri. Saat umurnya 10 tahun wahyu turun dan Rasul Saw resmi menjadi utusan Allah Swt. Ali kecil inilah yang pertama kali beriman dari golongan anak-anak.

Ali tinggal bersama Nabi Saw selama 13 tahun, termasuk saat hijrah. Ia seolah menjadi putra dan saudara seperjuangan Nabi Saw. Sampai pada pernikahannya dengan penghulu para perempuan (Sayyidat Nisa' al-Alamin) Fatimah binti Rasul -Shallallhu alaihi wa sallam-.

Ali ibn Abi Thalib hidup sekitar 30 tahun pasca wafatnya Rasul Saw. Ia wafat pada usia 63 tahun. Tidak menikah sampai Sayyidah Fatimah wafat. Kemudian, ia menikahi beberapa perempuan sebab ia menginginkan keturunan yang banyak demi memperkuat keluarga besar Nabi Saw.

Ali mempunyai 27 keturunan, putra dan putri (berdasarkan sebagian riwayat). Dari kesemua tersisalah di akhir Hasan, Hussein, dan Zainab. Mereka mempunyai 2 saudara sekandung dari Sayyidah Fatimah yaitu Ummu Kultsum dan Ruqoyyah (makamnya berada di Damaskus).

Dahulu Abu Thalib (ayah Ali) menanggung dan mendidik Nabi Saw semasa kecil. Berlanjut Nabi Saw menanggung dan mendidik Ali semasa kecil. Seakan hal ini menjadi hutang-budi Nabi Saw pada ayah Ali. Tidak ada seorangpun yang memperoleh keistimewaan seperti ini selain Ali ibn Abi Thalib.

ISTRI
Istri Imam Ali yang paling terkenal selain Sayyidah Fatimah ialah Sayyidah Ummu Muhammad (Habibah al-Hanafiyyah). Putranya yang bernama Muhammad (terkenal dengan sebutan Muhammad al-Akbar / ibnu al-Hanafiyyah) ialah imam yang luhur, mempunyai banyak jasa pada dua saudaranya: Hasan & Hussein.

Setelah itu, Imam Ali menikahi Ummul Banin (Fatimah). Darinya ia memperoleh keturunan: Abbas, Abdullah, Utsman, dan Jakfar). Khusus untuk Abbas, orang-orang menjulukinya Qamar Bani Hasyim (rembulannya bani Hasyim) sebab ketampanan, keluhuran, dan keilmuannya. Seluruh saudara-saudaranya tadi berjuang bersama Hussein. Kesemuanya syahid dan dimakamkan bersamanya di Karbala.

Selanjutnya, Imam Ali menikah dengan Umamah binti Zainab binti Rasul Saw. Tetapi, darinya tidak berketurunan. (Sebagian riwayat: putranya ialah Muhammad al-Awsath syahid di Karbala)

MASA KEPEMIMPINAN
Masa kepemimpinan Imam Ali 5 tahun, 6 bulan. Lalu syahid atas sebuah pengkhianatan di tangan Abdurrahman ibn Muljam al-Muradi.

Sebelum dikebumikan, jasadnya disiapkan oleh Hasan, Hussein, dan Muhammad (al-Akbar) ibn al-Hanafiyyah. Pemakaman dilakukan malam hari demi menghindari huru-hara serta keributan yang sangat mungkin terjadi saat itu. Sama halnya Sayyidah Fatimah binti Rasul yang juga dikebumikan malam hari di Baqi'.

Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa makam Imam Ali berada di Kufah, tepatnya di an-Najaf al-Asyraf, Irak. Makam ini (sesuai apa yang mereka katakan) berada di antara makam nabi Adam & Nuh -alaihimassalam-, di sampingnya lagi terdapat makam nabi Hud & Saleh. Pemakaman ini disebut Atabat Muqaddasah, tidak ada seorang wanita pun yang masuk ke pemakaman ini.

Maraqid Ahlil Bayt fi al-Qahirah halaman 31;
As-Syaikh Ar-Raid Muhammad Zaki Ibrahim.
---
Keterangan:
- Di akhir disebutkan bahwa terdapat riwayat yang mengatakan makam Imam Ali ada di Irak. Yang dimaksud oleh Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim di situ ialah riwayat saudara kita dari Syi'ah.
- Ruqayyah yang dimaksud sebagai putri Imam Ali biasanya disangkakan berada di Mesir, kawasan Sayyidah Aisyah. Sama halnya Atikah Bibi Nabi. Padahal tidak demikian. Selebihnya akan dibahas di kesempatan mendatang.

Sunday, July 06, 2014

Dr. Hamdi Taha Menyelenggarakan Buka Puasa Bersama

Yayasan Solidaritas Sosial Dr. Taha Hamdi (salah satu dosen Faculty of Mass Communication Azhar) akan menyelenggarakan buka puasa bersama bagi pelajar wafidin (pendatang) Univ. Al-Azhar.

Acara ini terbuka bagi pelajar pendatang dari mana saja seperti negara-negara lembah Sungai Nil, Asia, dan banyak lagi negara lain. Acara diselenggarakan:

-Hari: Senin, 7 Juli 2014
-Pukul: 6 Sore (guna seremonial)
-Tempat: Depan Nadi Muqawilun Arab - sebelum Mustasyfa Shadr jika dari arah Darrasa.

Dikutip dari sebuah portal berita Mesir, pada tahun 2011, yayasan ini berhasil menyelenggarakan buka puasa bersama sepanjang 2 kilometer dan berhasil membuat heboh sebab mengislamkan 70 warga asing yang saat itu menjadi bagian dari peserta.
______________________
CATATAN:
Sahabat Sarkub Mesir yang ingin hadir, bisa bersama-sama dari Darrasa pukul 5.30 sore. harap berpakaian rapi guna bertemu Dr. Hussam Syakir, salah satu duktur perwakilan Markaz I'lami Al-Azhar.