05 April 2017

Syekh Ahmad Zahid, Kakek Guru Syekh Zakaria al-Anshari

Ketika ia sudah selesai menceritakannya, sang guru meminta salah satu pelayannya untuk membawa bingkisan yang sama persis dengan bingkisan yang dibelinya tadi. Bingkisan itu masih meneteskan air pertanda baru saja diambil dari air.
Pada kesempatan ini mari kita membaca biografi salah sat ulama Mesir yang dimakamkan di Distrik Bab Al-Sya'riyah. Satu distrik dengan Syekh Abdul Wahhab Al-Sya'roni dan Syamsuddin Al-Romli.

Sosok

Ahmad bin Muhamad bin Sulaiman al-Fâwi, Syihabudin Abul Abas al-Qahiri al-Faqih as-Syafi’I terkenal dengan nama az-Zahid. Mengambil sanad tasawuf dari al-Quthb ad-Dimasyqi dan mengambil fikih dari ibnu al-‘Imad al-Aqfahisi (808 H). Beliau berasal dari desa Fau (Fa’, alif dan wawu), distrik Dasyna, propinsi Qina dan pindah ke Kairo untuk menetap disana sampai akhir hayatnya. Daerah yang dipilih untuk bertempat tinggal adalah Hay al-Huseiniyah.

Perihal mengapa terkenal dengan nama az-Zahid -padahal setiap wali besar pasti hidup dalam kezuhudan- adalah karena pada suatu malam beliau kedatangan seseorang yang ingin diajari ilmu kimia. Setelah selesai pelajaran, orang itu memberi 5 qintharah emas tanpa diketahui Ahmad.


Pagi-pagi Syekh Ahmad mengetahui ada emas yang dihadiahkan kepada dirinya. Bukan perasaan senang yang ada, beliau menyuruh pembantunya untuk membuang emas tersebut di tempat pembuangan sampah/wc (khala). Pembantunya itu juga disuruh agar tidak memberitahukan kepada siapa-siapa agar orang yang memberi tidak tersinggung. Hal ini diceritakan oleh Syekh as-Sya’rani setelah mendapatkan penjelasan dari gurunya, Syekh Muhamad al-Hirifisy.

Az-Zahid kecil sudah menunjukan bahwa dirinya akan menjadi seorang wali agung. Suatu kali dia dimintai makanan oleh seorang yang tidak dikenal. Tanpa tanya az-Zahid memberikannya walaupun dia sendiri sedang lapar. Dia bersengaja untuk melatih kesabaran dan menahan diri dari lapar. Tak dinyana, orang tak dikenal tersebut merupakan seorang wali yang akan menuntun jalan az-Zahid dalam mengarungi suluk shufi.

Beliau menghasilkan karya dalam bidang fikih dan tasawuf. Kegiatan menonjol beliau selain menulis dan mendidik adalah merehab masjid-masjid yang hampir roboh dan meramaikannya dengan pengajian.

Karya:

  1. Risâlah an-Nûr, empat jilid.
  2. Bidâyah al-Mustarsyid
  3. Tuḥfah al-Mubtadi wa Lum’ah al-Muntahi
  4. Sittîna Mas’alah
  5. Mukhtashar Ahkâm al-Ma’mûm wa al-Imâm karya Ibnu Imad
  6. Hidâyat al-Muta’alim wa ‘Umdat al-Mu’alim.
  7. al-Bayân as-Syâfi fî al-Hajj al-Kâfi.
  8. Hadiyah an-Nashîh.
  9. al-‘Uddah ‘inda as-Syiddah.
  10. Thalab az-Zâd li Yaum al-Ma’âd.

Zahid al-Mashri merupakan kakek guru dari Syeikhul Islam sebab Zakaria berguru kepada Sayid abu Abdillah Muhamad bin umar al-Wasithi al-Ghamri as-Syafi’I (849 H), guru Syeikhul Islam dalam suluk dan thariqah. Syekh Zakaria membaca Qawa’id Shufiyah selama empat puluh hari di Mahallah Kubra, tempat dari al-Ghamri untuk kemudian balik lagi ke kairo. Al-Ghamri merupakan murid dari Syekh Ahmad az-Zahid.

Al-Ghamri merupakan murid terdekat dari Syekh Ahmad az-Zahid. Pernah suatu ketika al-Ghamri pulang dari Dimyath untuk suatu keperluan. Di perjalanan beliau membeli manisan untuk diberikan kepada gurunya. Akan tetapi, manisan itu tersapu angina dalam perjalanan dan jatuh ke air. Akhirnya ia membiarkannya begitu saja. Sesampai di rumah sang guru, ia ditanya tentang hadiah yang dibawanya, padahal sebelumnya dia tidak memberitahukan akan memberi gurunya sebuah bingkisan. Al-Ghamri menceritakan kejadian yang dialaminya di jalan. Dan ketika ia sudah selesai menceritakannya, sang guru meminta salah satu pelayannya untuk membawa bingkisan yang sama persis dengan bingkisan yang dibelinya tadi. Bingkisan itu masih meneteskan air pertanda baru saja diambil dari air.

Murid az-Zahid yang lain adalah Syekh Madyan al-Asymuni (862) dan Syekh Abdurrahman bin Buktumur (840). Ketiganya adalah murid-murid az-Zahid yang menjadi wali besar. Cerita keramat dan bagaimana kebesaran mereka berempat; guru dan murid dapat dibaca di buku Raf’u A’lami an-Nashr bi Dizkri Aulia Mishr karya Muhamad Khalid Tsabit dengan nomor urut biografi 37,38, 39 dan 41. begitu juga dapat diakses di Thabaqat Sya’rani, al-Kawâkib milik al-Munawi, Jâmi’ Karâmât al-Auliya milik an-Nabhani, ad-Dhau al-Lâmi’ karya as-Sakhawi dan Masajid Mishr karya Dr. Su’ad Mahir.

Wafat

Beliau wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 819 H dan dimakamkan di masjid yang dibangun oleh beliau. Masjid itu bertempat di Jalan Pasar az-Zalath (Suq az-Zallath), jalan kecil yang bersambung ke Jalan Bab al-Ahmar dan bermuara ke Meidan Bab as-Sya’riyah. Makam beliau selalu ramai para peziarah sampai sekarang.1

Jadi, makam beliau berdekatan dengan makam pengarang Syarah Sittina Masalah, Syekh Syihabudin ar-Ramli dan dekat pula dengan makam Syekh Abdul Wahab as-Sya’rani yang menuliskan biografi Syekh Az-Zahid yang juga merupakan murid dari Syekh Syihabudin ar-Ramli. Juga sangat dekat dengan makam imam al-Munawi dan Syekh Madyan al-Asymuni, murid beliau sendiri.[]


1 Lihat foto-foto masjid dan makam http://bit.ly/1zNxwOI, diakses pada 2/2/2015 M. dan untuk melihat dalam peta http://bit.ly/1zvCb4B, diakses pada 2/2/2015 M. Peta tersebut juga dapat melihat Hay al-Huseiniyah, tempat Syekh az-Zahid bertempat tinggal.

Lahir di Desa Pageraji. Sekolah Mts di Cilongok, SMA di Purwokerto dan mondok di Leler, Banyumas.  two-ink.blogspot.com